PT Blue Bird Tbk (BIRD) menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan neto perusahaan taksi ini naik 10,9 persen menjadi Rp4,57 triliun, dari Rp4,12 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun laba bersih justru turun 2,9 persen menjadi Rp474,03 miliar dari Rp488,01 miliar, sehingga laba per saham ikut turun dari Rp193 menjadi Rp188.

Penurunan laba ini terjadi karena beban langsung, seperti biaya bahan bakar dan perawatan kendaraan, naik 13,5 persen menjadi Rp3,17 triliun, lebih cepat dari kenaikan pendapatan. Laba usaha pun tergerus menjadi Rp484,31 miliar dari Rp513,62 miliar. Beban bunga pinjaman bank melonjak 41 persen menjadi Rp104,26 miliar dari Rp73,74 miliar, meski perusahaan juga mencatat keuntungan Rp136,34 miliar dari penjualan aset tidak lancar yang dikuasai untuk dijual, naik dari Rp98,75 miliar tahun lalu.

Dari sisi kas, saldo kas dan setara kas BIRD menyusut tajam menjadi Rp641,95 miliar per 30 September 2026, dari Rp1,34 triliun pada akhir 2025. Penurunan ini terjadi karena perusahaan membelanjakan Rp1,32 triliun untuk pembelian aset tetap termasuk kendaraan baru, membayar dividen tunai Rp415,35 miliar kepada pemegang saham, naik dari Rp300,25 miliar tahun lalu, serta melunasi utang bank jangka panjang Rp702,75 miliar yang lebih besar dari pinjaman baru yang diterima senilai Rp498,82 miliar. Meski demikian, total ekuitas perusahaan masih naik tipis menjadi Rp6,38 triliun dari Rp6,33 triliun, sementara total liabilitas menyusut menjadi Rp3,28 triliun dari Rp3,33 triliun.