PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR), atau bank bjb, menyampaikan keterbukaan informasi bahwa PT Fitch Ratings Indonesia mengafirmasi peringkat utang jangka panjang nasional (National Long-Term Rating) bank bjb di level AA-(idn) atau Double A Minus, dengan outlook stabil. Keterbukaan ini merujuk pada surat Fitch Ratings Indonesia No. 195/DIR/RATLTR/X/2026 tanggal 5 Oktober 2026 dan disampaikan ke Otoritas Jasa Keuangan sesuai Peraturan OJK No.49/POJK.04/2020 tentang Pemeringkatan Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk. Laporan ditandatangani oleh Corporate Secretary bank bjb, Irwan Riswandi.
Dalam uraian pertimbangannya, Fitch menyebut peringkat bank bjb ditopang oleh kekuatan kredit mandiri perseroan serta kemungkinan sedang dukungan luar biasa dari pemerintah, mengingat bank bjb adalah bank pembangunan daerah terbesar di Indonesia dengan pangsa 1,6 persen dari total aset perbankan nasional per akhir Juni 2026. Sekitar tiga perempat kredit konsolidasian bank bjb berasal dari pinjaman payroll pegawai sektor publik di Jawa Barat dan Banten, yang dinilai berisiko rendah karena cicilannya dipotong langsung dari gaji. Namun rasio kredit bermasalah (NPL) bank bjb naik menjadi 3,3 persen per akhir Juni 2026, dari rata-rata 2,0 persen dalam empat tahun terakhir, dan rasio kredit berisiko (loans-at-risk) ikut naik ke 10,2 persen dari rata-rata 8,0 persen, terutama disumbang segmen korporasi serta usaha mikro, kecil, dan menengah.
Fitch mencatat rasio kecukupan modal inti utama (CET1) bank bjb berada di 14,5 persen per Juni 2026 dan diperkirakan bertahan di atas 14 persen, meski pertumbuhan modal tertahan oleh rasio pembagian dividen yang tinggi, sekitar 78 persen dari laba. Rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga membaik ke 87 persen pada semester I 2026 dari 92 persen di akhir 2025, dan rasio kecukupan likuiditas tercatat 207 persen, jauh di atas batas minimum regulator. Fitch memproyeksikan rasio laba operasional terhadap aset tertimbang risiko melandai ke sekitar 1,7 persen hingga akhir 2027, seiring kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 100 basis poin pada pertengahan 2026 yang mengerek biaya dana lebih cepat dibanding penyesuaian bunga kredit. Fitch menyebut penurunan peringkat berpotensi terjadi jika rasio NPL naik dan bertahan di atas 4 persen tanpa diimbangi kenaikan cadangan kerugian kredit atau modal, sementara kenaikan peringkat dinilai tidak mungkin dalam waktu dekat.
