PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk (BMAS), yang sebelumnya bernama PT Bank Maspion Indonesia Tbk, menyampaikan laporan keuangan interim auditan untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 kepada OJK dan Bursa Efek Indonesia pada 1 September 2026. Auditor independen dari KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang, dan Rekan, dengan partner penanggung jawab Sutomo, memberikan opini wajar tanpa modifikasian, namun menyoroti satu hal audit utama, yaitu kompleksitas perhitungan cadangan kerugian penurunan nilai atas kredit yang diberikan, yang nilainya mencapai Rp330,73 miliar per 30 Juni 2026. Total aset bank tercatat Rp26,60 triliun, naik 18,7 persen dari Rp22,42 triliun pada akhir 2025, sementara total liabilitas naik lebih tajam, 26,28 persen menjadi Rp20,10 triliun.
Dalam surat terpisah yang mengacu pada aturan Bursa Efek Indonesia soal kewajiban menjelaskan perubahan lebih dari 20 persen pada pos aset atau liabilitas, Direktur BMAS Irawan Rukmanto menjelaskan bahwa kenaikan liabilitas terutama didorong oleh lonjakan pinjaman yang diterima dari pihak berelasi, yaitu pemegang saham pengendali. Pinjaman ini melonjak 335,61 persen, dari Rp1,33 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp5,81 triliun pada 30 Juni 2026, atau bertambah Rp4,48 triliun. Dana ini turut menopang ekspansi penyaluran kredit yang naik dari Rp17,34 triliun menjadi Rp19,25 triliun, serta penambahan portofolio efek-efek dari Rp1,81 triliun menjadi Rp2,94 triliun.
Di sisi laba rugi, BMAS mencatat laba bersih semester I 2026 sebesar Rp6,39 miliar, anjlok 74,5 persen dibandingkan Rp25,03 miliar pada semester I 2025, meski pendapatan bunga bersihnya relatif stabil di Rp338,63 miliar. Laba per saham dasar turun dari Rp1,38 menjadi Rp0,35. Sejumlah rasio keuangan juga melemah: return on asset turun dari 0,21 persen menjadi 0,09 persen, return on equity dari 0,51 persen menjadi 0,21 persen, dan marjin bunga bersih dari 3,45 persen menjadi 3,21 persen, sementara rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional naik dari 97,15 persen menjadi 98,90 persen. Rasio kredit bermasalah kotor naik tipis dari 2,26 persen menjadi 2,31 persen, sedangkan rasio kecukupan modal masih tebal di 48,22 persen, naik dari 45,76 persen pada akhir 2025.
