PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) menyampaikan laporan keuangan tahunan 2024 dengan opini wajar dengan pengecualian dari auditor, yaitu penilaian bahwa laporan keuangannya secara umum sudah sesuai standar akuntansi tetapi ada satu ganjalan besar yang membuat auditor tidak bisa memberi opini bersih. Ganjalan itu adalah pembatalan perdamaian (homologasi) dalam perkara Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang oleh Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, yang berujung pada status pailit bagi PT Bangun Olahsarana Sukses (BOS), anak usaha tidak langsung yang menyumbang 41,72 persen dari total aset Grup dan beroperasi di Kalimantan Timur. Manajemen BOSS sudah mengajukan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung setelah upaya kasasi sebelumnya ditolak, dan pengadilan sudah menunjuk Tim Kurator yang berencana melanjutkan usaha BOS demi kepentingan kreditor sambil merampungkan kerja sama dengan investor dan kontraktor baru.

Auditor juga mencatat dua masalah lain dalam laporan ini. Pertama, PT Pratama Buana Sentosa, anak usaha tidak langsung lainnya, mengalami defisit ekuitas sebesar Rp1,49 miliar dan izin usaha pertambangan eksplorasinya sudah berakhir tanpa diperpanjang, sehingga entitas ini tidak lagi berhak melakukan eksplorasi maupun produksi di wilayah konsesinya dan belum punya rencana pemulihan yang konkret. Kedua, sampai laporan ini selesai disusun, Grup belum membayar utang sebesar Rp38,97 miliar kepada Rocksbridge Energy Pte. Ltd. sesuai perjanjian damai yang sudah disepakati, dan anak usaha PT Pratama Bersama juga belum membayar utang Rp43,14 miliar. Manajemen menyebut keterbatasan likuiditas Grup sebagai alasan kedua tunggakan itu, yang jika dijumlahkan mencapai sekitar Rp82,1 miliar.

Dari sisi angka, total aset Grup turun dari Rp596,64 miliar pada akhir 2023 menjadi Rp588,05 miliar pada akhir 2024. Kas dan setara kas naik dari Rp998,86 juta menjadi Rp2,45 miliar, tetapi utang kepada pihak ketiga selain utang usaha melonjak dari Rp111,13 miliar menjadi Rp231,31 miliar, sementara utang usaha ke pihak ketiga turun dari Rp120,55 miliar menjadi Rp98,46 miliar. Auditor juga menandai piutang usaha dan piutang lain-lain bruto Grup, masing-masing Rp35,75 miliar dan Rp76,16 miliar atau setara 18,41 persen dari total aset, sebagai hal audit utama karena perusahaan membentuk cadangan kerugian piutang tak tertagih senilai Rp3,73 miliar tahun ini. Laporan ini diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Mohammad Sunusi dan Rekan dengan partner penandatangan Martogi Marojahan Sitinjak, menggantikan auditor tahun sebelumnya, KAP Kanaka Puradiredja, Suhartono. BOSS sendiri saat ini tercatat di papan pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia.