PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) menyampaikan laporan keuangan tahunan untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025 ke Bursa Efek Indonesia. Auditor independen dari Kantor Akuntan Publik Mohammad Sunusi dan Rekan kembali memberikan opini wajar dengan pengecualian, status yang sama dengan laporan tahun sebelumnya. Total aset Grup turun dari Rp588,05 miliar pada akhir 2024 menjadi Rp559,16 miliar pada akhir 2025, sementara kas dan setara kas anjlok dari Rp2,45 miliar menjadi hanya Rp720,93 juta.

Opini pengecualian ini didasari pembatalan putusan perdamaian (homologasi) dalam perkara Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, yang berujung pada pailitnya PT Bangun Olahsarana Sukses, entitas anak yang dikuasai BOSS secara tidak langsung. Manajemen Grup telah mengajukan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung setelah upaya kasasi sebelumnya ditolak. Tim kurator yang ditugaskan pengadilan berencana melanjutkan operasional anak usaha itu sambil menuntaskan kerja sama dengan investor dan kontraktor baru, namun auditor menilai kondisi ini menimbulkan ketidakpastian material atas kelangsungan usaha Grup.

Dua entitas anak lain juga dalam kondisi rawan. PT Pratama Buana Sentosa mencatat defisit ekuitas Rp1,49 miliar dan izin usaha pertambangan eksplorasinya telah habis serta tidak diperpanjang, sehingga perusahaan ini tidak lagi berhak beroperasi di wilayah konsesinya. PT Pratama Natural Resources dan entitas anaknya membukukan rugi komprehensif Rp34,74 miliar sepanjang 2025, membuat akumulasi ruginya membengkak menjadi Rp454,41 miliar dengan defisit ekuitas Rp239,90 miliar. Auditor juga mencatat Grup belum melunasi utang kepada Rocksbridge Energy Pte Ltd sebesar Rp38,97 miliar dan utang PT Pratama Bersama sebesar Rp43,14 miliar, keduanya tertunda karena keterbatasan likuiditas Grup.

Laporan ini turut mencantumkan hal audit utama berupa penyisihan kerugian kredit ekspektasian atas piutang usaha dan piutang lain-lain, yang bersama-sama mencapai sekitar Rp111,90 miliar atau 20,01 persen dari total aset Grup, dengan cadangan kerugian yang dibentuk sebesar Rp3,73 miliar. Laporan ditandatangani Direktur Utama Freddy Tedjasasmita dan Direktur Widodo Nurly Sumady pada 28 Oktober 2026, sementara saham BOSS saat ini berstatus Pemantauan Khusus di papan perdagangan BEI.