PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) menyampaikan laporan keuangan tahunan untuk periode yang berakhir 31 Desember 2023, diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Mohammad Sunusi dan Rekan dengan partner audit Martogi Marojahan Sitinjak. Auditor memberikan opini wajar dengan pengecualian. Penyebabnya adalah pembatalan perjanjian perdamaian (homologasi) dalam perkara Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, yang membuat anak usaha tidak langsung Perseroan, PT Bangun Olahsarana Sukses, dinyatakan pailit. Manajemen Grup sudah mengajukan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung setelah kasasi sebelumnya ditolak, dan Tim Kurator yang ditunjuk pengadilan berencana melanjutkan operasi anak usaha itu sambil menuntaskan kerja sama dengan investor dan izin RKAB 2023 dari Kementerian ESDM. Auditor menyebut kondisi ini menimbulkan ketidakpastian material atas kemampuan Grup mempertahankan kelangsungan usahanya.
Laporan ini juga memuat catatan penekanan suatu hal mengenai anak usaha lain, PT Pratama Bersama, yang pada 1 November 2021 menyepakati perdamaian utang dengan kreditor Rocksbridge Energy Pte Ltd. Setelah masa tenggang delapan bulan yang berakhir 30 Juni 2022, Grup seharusnya membayar cicilan Rp1.082.403.830 setiap akhir bulan. Namun sampai laporan ini diselesaikan, total utang yang belum dibayarkan mencapai Rp38.966.537.863 dan Grup belum melakukan satu pun pembayaran cicilan. Manajemen menyebut keterlambatan ini karena likuiditas Grup masih terbatas, lantaran PT Pratama Bersama, yang menyumbang kinerja signifikan bagi Grup, baru memulai produksi pada tahun berjalan.
Dari sisi angka, total aset konsolidasian Grup turun menjadi Rp596,64 miliar per akhir 2023 dari Rp699,11 miliar setahun sebelumnya. Auditor juga menyoroti sebagai hal audit utama penyisihan kerugian kredit ekspektasian atas piutang usaha dan piutang lainnya, yang bruto masing-masing tercatat Rp37,63 miliar dan Rp76,29 miliar atau 19,09 persen dari total aset Grup, dengan cadangan yang dibentuk tahun ini sebesar Rp5,61 miliar. Berdasarkan surat penjelasan Perseroan kepada OJK atas perubahan pos di atas 20 persen, defisit akumulasi (saldo rugi) Grup membesar menjadi Rp473,82 miliar dari Rp321,91 miliar, sementara posisi modal Grup berbalik menjadi defisiensi modal Rp188,94 miliar, naik tajam dari Rp39,38 miliar pada akhir 2022, yang berarti total utang Grup sudah melampaui total asetnya.
