PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2025 kepada Bursa Efek Indonesia, melalui surat bernomor 12.209a/SL.e/Dir/BOSS/X/2026 tertanggal 2 November 2026. Laporan ditandatangani oleh Direktur Utama Freddy Tedjasasmita dan Direktur Widodo Nurly Sumady, yang menyatakan bertanggung jawab atas penyusunan dan kelengkapan laporan tersebut.
Secara konsolidasi, BOSS kembali tidak membukukan penjualan bersih maupun beban pokok penjualan sepanjang Januari-September 2025, sama seperti periode yang sama tahun sebelumnya. Rugi bersih tercatat Rp9,01 miliar, mengecil dari rugi Rp13,33 miliar pada sembilan bulan 2024, terutama karena beban umum dan administrasi turun dari Rp12,86 miliar menjadi Rp8,61 miliar. Meski rugi mengecil, defisiensi modal, yaitu selisih ketika utang perusahaan sudah melampaui asetnya, justru melebar dari Rp224,12 miliar pada akhir 2024 menjadi Rp232,66 miliar per 30 September 2025. Jumlah aset turun dari Rp588,05 miliar menjadi Rp577,94 miliar, jumlah liabilitas sedikit menyusut dari Rp812,16 miliar menjadi Rp810,60 miliar, dan kas serta setara kas merosot dari Rp2,45 miliar menjadi Rp836,54 juta.
Arus kas dari aktivitas operasi masih negatif Rp74,40 miliar dalam sembilan bulan 2025, membaik dari minus Rp105,80 miliar pada periode yang sama 2024, dan ditutupi lewat penerimaan utang pihak ketiga serta utang pihak berelasi dalam aktivitas pendanaan. Dokumen juga memuat rincian anak usaha BOSS: PT Bangun Olahsarana Sukses (kepemilikan 41,72 persen) dan PT Pratama Bersama (38,03 persen) yang sudah berstatus Operasi, sementara Pratama Natural Resource (22,43 persen), PT Pratama Buana Sentosa (0,92 persen), dan PT Pratama Prime Resource (1,03 persen) masih berstatus Pra-Operasi. Jumlah modal disetor BOSS tidak berubah, yakni 1,4 miliar lembar saham dengan nilai nominal Rp100 per lembar, dan saham perseroan masih tercatat di papan Pemantauan Khusus bursa.
