PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) melaporkan laba bersih selama sembilan bulan pertama 2026 sebesar Rp1,01 triliun, naik sekitar 7 persen atau Rp66,5 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat Rp945,4 miliar. Laba per saham ikut naik dari Rp123 menjadi Rp131. Total aset perseroan per 30 September 2026 mencapai Rp24 triliun, bertambah Rp1,2 triliun atau 5,5 persen dari posisi akhir 2025 yang sebesar Rp22,8 triliun. Ekuitas juga naik dari sekitar Rp10 triliun menjadi Rp10,6 triliun, bertambah Rp655,8 miliar atau 6,6 persen, yang menurut manajemen berasal dari laba ditahan dikurangi pembayaran dividen sepanjang 2026.
Dari sisi penyaluran pembiayaan, piutang murabahah atau pembiayaan jual beli ke nasabah inklusi naik 4,7 persen dari Rp9,2 triliun menjadi Rp9,6 triliun. Sementara itu, cadangan kerugian penurunan nilai atas piutang tersebut justru turun 7,4 persen dari Rp881,2 miliar menjadi Rp815,8 miliar, yang menurut manajemen sejalan dengan membaiknya kualitas pembiayaan. Bank menyebut tetap menjaga kecukupan pencadangan, termasuk untuk nasabah yang direstrukturisasi akibat bencana di Sumatra. Pembiayaan musyarakah melonjak paling tajam, naik 25,8 persen atau Rp248,3 miliar menjadi Rp1,2 triliun, didorong penyaluran ke lembaga keuangan non bank lewat sinergi dengan bank induk dan Grup SMBC.
Di pos lain, kas perseroan turun 21,9 persen menjadi Rp490,8 miliar karena dipindahkan ke aktiva produktif, sementara giro dan penempatan di Bank Indonesia naik 37,2 persen menjadi Rp2 triliun akibat rendahnya penyerapan lelang instrumen Fasbis dan SukBI. Perseroan juga mencatat liabilitas baru ke Bank Indonesia sebesar Rp319,7 miliar dari fasilitas PaSBI, instrumen moneter syariah untuk mengelola likuiditas perbankan. Laporan keuangan interim ini belum diaudit dan disampaikan ke OJK serta Bursa Efek Indonesia sesuai kewajiban pelaporan berkala emiten.
