Eagle High Plantations Tbk (BWPT) menggelar public expose insidentil pada 27 Agustus 2026 yang dihadiri 72 peserta eksternal di luar manajemen dan karyawan perseroan. Manajemen yang hadir adalah Direktur Choong Kam Loong, Direktur Andrew Haryono, dan Head of Investor Relations Melvina, sebagaimana disampaikan perseroan dalam laporan ke Bursa Efek Indonesia.
Dalam sesi tanya jawab, manajemen memaparkan rencana belanja modal sekitar 3 sampai 5 persen dari total pendapatan tahunan atau sekitar Rp300 miliar per tahun, yang sebagian besar dialokasikan untuk perawatan infrastruktur dan keandalan aset. Perseroan juga menyiapkan investasi sekitar Rp100 miliar untuk pembangunan pabrik pengolahan inti sawit (KCP) baru yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2027, dengan kemungkinan penambahan KCP lain di masa depan. Soal dividen, Direktur Choong Kam Loong menyatakan perseroan sedang mengkaji pembagian dividen sebagai bentuk apresiasi kepada pemegang saham setelah sebelumnya mengantongi status kuasi reorganisasi, namun besaran dan waktu pembagiannya akan diumumkan kemudian.
Perseroan juga mengungkapkan telah mempertahankan peringkat kredit A- dari PEFINDO selama tiga tahun berturut-turut, dan baru memperoleh peringkat A dengan outlook stabil dari PT Kredit Rating Indonesia, di tengah rencana penerbitan Penawaran Umum Berkelanjutan. Untuk program kemitraan petani Plasma Mandiri, perseroan menargetkan penambahan lahan sekitar 5.000 hektare per tahun hingga mencapai sekitar 40.000 hektare pada 2030. Manajemen turut menjelaskan harga solar saat ini sekitar Rp23.000 per liter, turun dari puncaknya Rp28.000 per liter meski masih di atas harga tahun lalu sekitar Rp15.000 per liter, sementara harga pupuk mulai menormalisasi setelah sebelumnya sempat naik dua kali lipat. Terkait cuaca kering akibat El Nino, Direktur Andrew Haryono menyebut operasional perseroan masih berjalan normal berkat deteksi dini lewat citra satelit, menara pemantau api, dan drone.
