PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) menyampaikan materi Public Expose Insidentil kepada Bursa Efek Indonesia, mengacu pada rencana yang sudah diumumkan lewat surat bernomor 100/BOD/EHP/VIII/2026 tanggal 12 Agustus 2026. Paparan publik akan digelar secara elektronik pada Kamis, 27 Agustus 2026, pukul 10.00 sampai 11.15 WIB, melalui webinar Zoom dengan tautan pendaftaran yang dicantumkan perseroan. Jajaran direksi dijadwalkan hadir langsung dalam sesi tersebut.

Materi yang disampaikan memuat kinerja keuangan semester I 2026. Pendapatan perseroan naik 17 persen menjadi Rp3.255 miliar dari Rp2.779 miliar pada semester I 2025. Laba kotor naik tipis 2 persen menjadi Rp799 miliar, sementara EBITDA, yaitu laba usaha sebelum dipotong bunga, pajak, dan penyusutan, tumbuh 8 persen menjadi Rp942 miliar. Laba bersih tumbuh paling tinggi, naik 16 persen menjadi Rp215 miliar dari Rp185 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Rasio utang terhadap modal tercatat 2,3 kali pada semester ini, membaik dari 2,6 kali di akhir 2025 dan 3,7 kali pada 2023, menandakan perseroan terus mengurangi beban utang.

Dari sisi operasional, luas kebun perseroan mencapai 84.000 hektare yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Produksi tandan buah segar tercatat 510.233 metrik ton pada semester I 2026, turun dari 536.492 metrik ton di periode sama tahun lalu, dengan produktivitas per hektare turun dari 6,17 menjadi 6,08 metrik ton. Meski begitu, produksi minyak sawit mentah (CPO) naik dari 142.247 menjadi 148.998 metrik ton dan penjualan CPO naik dari 171.453 menjadi 195.808 metrik ton, dengan harga jual rata-rata naik dari Rp14.113 menjadi Rp14.622 per kilogram.

Materi itu juga mencantumkan data pasar per 30 Juni 2026: harga saham BWPT tercatat Rp73 dengan kapitalisasi pasar Rp2,3 triliun, jauh dari level tertinggi 52 minggu di Rp193, dan diperdagangkan dengan rasio harga terhadap nilai buku (PBV) 0,8 kali. Pemegang saham utama perseroan adalah Rajawali Capital International dengan 37,7 persen dan FIC Properties SDN BHD dengan 37,0 persen, sedangkan sisanya 25,3 persen dimiliki publik.