PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT) menyampaikan koreksi laporan keuangan interim untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026, sekaligus surat penjelasan wajib ke Bursa Efek Indonesia karena pos aset dan liabilitasnya berubah lebih dari 20 persen. Total aset perusahaan naik 43,44 persen menjadi Rp5,91 triliun per 30 Juni 2026, dari sebelumnya Rp4,12 triliun pada akhir 2025. Kenaikan ini terutama berasal dari dana sebesar Rp866,97 miliar yang kini wajib ditempatkan di rekening khusus, menyusul berlakunya Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2026 yang mengharuskan eksportir menaruh seluruh devisa hasil ekspor dalam mata uang asing di rekening tersebut selama 12 bulan. Kenaikan piutang usaha sebesar Rp888,53 miliar seiring naiknya penjualan ekspor turut menambah aset.

Di sisi lain, total liabilitas naik lebih tajam, yakni 52,87 persen menjadi Rp4,60 triliun dari Rp3,01 triliun. Pemicu utamanya adalah pinjaman bank jangka pendek yang bertambah Rp1,51 triliun, termasuk fasilitas Kredit Agunan Tunai Devisa Hasil Ekspor senilai Rp887,71 miliar yang diperoleh lewat perjanjian kredit tertanggal 10 Juni 2026. Fasilitas ini dijamin dengan dana devisa hasil ekspor yang sama yang tertahan di rekening khusus tadi. Manajemen CBUT menyatakan kenaikan aset dan liabilitas ini saling terkait dan terjadi bersamaan, sehingga tidak berdampak negatif terhadap kinerja keuangan perusahaan tahun berjalan.

Angka BPSNilai ekspor
26,2 miliar US$Juli 2026

Nilai barang yang dijual Indonesia ke luar negeri. Naik 0,76 miliar US$ dibanding Juni 2026. Posisinya di atas rata-rata 12 bulan terakhir (24.007,8).

Februari 2024: 19,3 miliar US$Maret 2024: 22,6 miliar US$April 2024: 19,7 miliar US$Mei 2024: 22,4 miliar US$Juni 2024: 21,1 miliar US$Juli 2024: 22,5 miliar US$Agustus 2024: 23,6 miliar US$September 2024: 22,2 miliar US$Oktober 2024: 24,8 miliar US$November 2024: 24,1 miliar US$Desember 2024: 23,6 miliar US$Januari 2025: 21,4 miliar US$Februari 2025: 21,9 miliar US$Maret 2025: 23,2 miliar US$April 2025: 20,7 miliar US$Mei 2025: 24,6 miliar US$Juni 2025: 23,4 miliar US$Juli 2025: 24,7 miliar US$Agustus 2025: 24,9 miliar US$September 2025: 24,7 miliar US$Oktober 2025: 24,2 miliar US$November 2025: 22,5 miliar US$Desember 2025: 26,3 miliar US$Januari 2026: 22,2 miliar US$Februari 2026: 22,2 miliar US$Maret 2026: 22,5 miliar US$April 2026: 25,3 miliar US$Mei 2026: 23,2 miliar US$Juni 2026: 25,5 miliar US$Juli 2026: 26,2 miliar US$FebMeiAguNovFebMeiAguNovFebMeiJul20242025202626.29019.349Agustus 2025: 24,9 miliar US$September 2025: 24,7 miliar US$Oktober 2025: 24,2 miliar US$November 2025: 22,5 miliar US$Desember 2025: 26,3 miliar US$Januari 2026: 22,2 miliar US$Februari 2026: 22,2 miliar US$Maret 2026: 22,5 miliar US$April 2026: 25,3 miliar US$Mei 2026: 23,2 miliar US$Juni 2026: 25,5 miliar US$Juli 2026: 26,2 miliar US$AguOktDesFebAprJunJul2025202626.29022.156

Sumber: Badan Pusat Statistik, Nilai Ekspor. Diolah The Signal.

Dari sisi kinerja, pendapatan CBUT untuk semester I 2026 naik menjadi Rp9,27 triliun dari Rp6,66 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba periode berjalan melonjak menjadi Rp169,66 miliar dari Rp42,21 miliar, sementara laba per saham dasar naik dari Rp13,5 menjadi Rp54,3. Ekuitas perusahaan turut naik menjadi Rp1,31 triliun dari Rp1,11 triliun. Laporan ini telah direviu secara terbatas oleh KAP Purwanto Susanti dan Surja, anggota jaringan Ernst & Young, dengan partner penanggung jawab Daniel, dan surat penjelasan ke bursa ditandatangani oleh Direktur Ronny Hertantyo Raharjo pada 21 Agustus 2026 di Pangkalan Bun.