PT Diastika Biotekindo Tbk (CHEK) menyampaikan jawaban resmi atas surat permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia nomor S-11102/BEI.PP1/08-2026 tertanggal 28 Agustus 2026. Surat balasan ditandatangani Direktur Utama Franciscus Xaverius Yoshua R pada 1 September 2026, menjawab pertanyaan Bursa atas dokumen proyeksi keuangan serta laporan keuangan periode 31 Desember 2025 dan 30 Juni 2026.

Dari sisi kinerja, perseroan mengonfirmasi pendapatan naik 30,05 persen menjadi Rp201,30 miliar pada 2025 dari Rp154,79 miliar pada 2024. Namun tidak ada lagi pendapatan dari PT Fajar Mas Murni yang sebelumnya menyumbang Rp11,25 miliar pada 2024, karena sifatnya proyek yang sudah selesai. Di sisi beban, biaya umum dan administrasi melonjak 44,01 persen menjadi sekitar Rp48,51 miliar, terutama karena kenaikan biaya konsultan, pajak, dan imbalan kerja. Perseroan juga menambah utang bank baru, yaitu Rp18,08 miliar dari PT Bank Pan Indonesia Tbk pada 2025 dan Rp10 miliar dari PT Bank UOB Indonesia Tbk pada Juni 2026, keduanya untuk modal kerja.

Di neraca, persediaan naik dari Rp50,8 miliar menjadi Rp116,48 miliar, yang menurut manajemen untuk menjaga ketersediaan produk dan mengamankan proyek tender pemerintah. Uang muka pembelian juga terus membesar, dari Rp846,43 juta pada 2024 menjadi Rp2,63 miliar pada 2025 dan Rp4,81 miliar pada Juni 2026. Perseroan menambah utang pembiayaan konsumen Rp807,81 juta untuk kendaraan operasional, sementara piutang dari PT Etana Biotechnologies Indonesia dan utang ke PT UBC Medical Indonesia Tbk, keduanya pihak berelasi, sudah lunas masing-masing pada awal 2025 dan 7 Februari 2025.

Dalam rincian uang muka, tercatat dana sebesar Rp1.012.134.563 yang disalurkan ke Lotus Andalan Sekuritas untuk keperluan buyback saham CHEK, dengan target realisasi pada kuartal III atau September 2026. Ada pula jaminan pelaksanaan senilai Rp133,2 juta kepada Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN yang juga ditargetkan rampung pada periode yang sama.