PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO) mencatat laba periode berjalan Rp165,39 miliar untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, naik 12,5 persen dari Rp147,05 miliar pada periode yang sama tahun lalu, menurut laporan keuangan interim yang tidak diaudit yang disampaikan perseroan ke Bursa Efek Indonesia pada 28 Oktober 2026. Kenaikan laba ini terjadi meski pendapatan usaha justru turun menjadi Rp1,44 triliun dari Rp1,46 triliun, dan laba operasional susut hampir 39 persen dari Rp242,50 miliar menjadi Rp148,06 miliar akibat beban pokok pendapatan yang naik lebih cepat dari penjualan. Pendorong utama kenaikan laba bersih adalah pos pendapatan lain-lain neto yang berbalik dari rugi Rp9,82 miliar menjadi untung Rp83,96 miliar, bukan dari kinerja penjualan batu bara perseroan.
Di sisi lain, posisi keuangan CNKO masih menunjukkan defisiensi modal, yaitu kondisi ketika total utang perusahaan lebih besar daripada total asetnya, sebesar Rp898,99 miliar per akhir September 2026. Angka ini membaik dibandingkan defisit Rp1,06 triliun pada akhir 2025, terutama karena laba periode ini menambah saldo rugi yang terkumpul dari Rp3.668,80 miliar menjadi Rp3.503,49 miliar. Total aset perseroan naik menjadi Rp1,05 triliun dari Rp891,35 miliar, sementara total liabilitas turun sedikit menjadi Rp1,95 triliun dari Rp1,96 triliun. Kas dan setara kas bertambah menjadi Rp363,42 miliar dari Rp254,03 miliar pada awal tahun, didukung arus kas operasi positif Rp142,64 miliar serta penerimaan Rp50 miliar dari pelepasan satu entitas anak.
Laporan ini juga menyebutkan status papan perdagangan saham CNKO di Bursa Efek Indonesia adalah Pemantauan Khusus atau Watchlist. Perseroan memiliki lima entitas anak yang bergerak di sektor pertambangan, perdagangan batu bara, dan jasa pelayaran, yaitu PT Abe Jaya Perkasa dengan kepemilikan 51,3 persen, PT Energi Batubara Indonesia 99,97 persen, PT Trans Lintas Segara 99,99 persen, PT Korporindo Guna Bara 99,78 persen, dan PT Sekti Rahayu Indah yang kepemilikannya kini tercatat 0 persen dengan aset nihil, sejalan dengan transaksi pelepasan entitas anak yang tercatat dalam laporan perubahan ekuitas periode ini. Laba per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp18,47 untuk periode ini, naik dari Rp16,30 pada periode yang sama tahun lalu.
