PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk (CSIS) melaporkan kinerja keuangan konsolidasian interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan perseroan tercatat Rp85,08 miliar, naik dari Rp69,41 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba kotor naik dari Rp40,09 miliar menjadi Rp56,77 miliar, sementara laba bersih konsolidasian naik 24,4 persen dari Rp24,61 miliar menjadi Rp30,63 miliar. Dari jumlah itu, bagian yang menjadi hak pemegang saham induk sebesar Rp16,98 miliar, naik dari Rp12,44 miliar, sedangkan sisanya menjadi hak pemegang saham minoritas di anak usaha, terutama PT Bogorindo Cemerlang, pengembang properti di Sentul yang 61,59 persen sahamnya dikuasai CSIS dengan total aset Rp726,64 miliar.

Perubahan paling mencolok ada di pos kas. Kas dan setara kas melonjak dari Rp9,31 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp175,07 miliar pada akhir September 2026. Dalam surat penjelasan yang diteken Direktur Utama Tjoea Aubintoro tertanggal 28 Oktober 2026, perseroan menyebut lonjakan hingga 1.780 persen itu berasal dari dana rights issue, yaitu penerbitan saham baru kepada pemegang saham lama, yang diterima perseroan pada Juni 2026. Laporan arus kas mencatat penerimaan tambahan modal disetor sebesar Rp198,67 miliar. Akibatnya, modal saham perseroan naik dari Rp130,7 miliar menjadi Rp182,98 miliar dan tambahan modal disetor naik dari Rp29,37 miliar menjadi Rp134,22 miliar, sehingga total ekuitas konsolidasian melonjak dari Rp381,31 miliar menjadi Rp578,31 miliar. Perseroan juga membagikan dividen total Rp11,19 miliar, terdiri dari Rp5,49 miliar untuk pemegang saham induk dan Rp5,7 miliar untuk pemegang saham minoritas anak usaha.

Surat penjelasan yang sama memerinci sejumlah pos lain yang berubah lebih dari 20 persen. Uang muka naik 378 persen karena kenaikan uang muka proyek pekerjaan infrastruktur di Kawasan Industri Cikembar yang dikerjakan anak usaha. Piutang lain-lain dari pihak ketiga turun 55 persen setelah anak usaha menerima pembayaran piutang bagi hasil dari PT Gas Negara. Di sisi liabilitas, utang usaha ke pihak ketiga naik 27 persen karena tagihan subkontraktor yang belum jatuh tempo, sementara utang pajak turun 20 persen setelah pembayaran PPh Pasal 29. Total aset perseroan naik dari Rp549,26 miliar menjadi Rp725,31 miliar, sedangkan total liabilitas justru turun dari Rp167,95 miliar menjadi Rp146,99 miliar.

Namun kenaikan laba itu belum tercermin pada arus kas dari kegiatan usaha sehari-hari. Arus kas operasi sembilan bulan ini tercatat defisit Rp7,58 miliar, berbalik dari surplus Rp19,89 miliar pada periode yang sama tahun lalu, seiring pembayaran kas kepada pemasok yang melonjak dari Rp24,07 miliar menjadi Rp51,11 miliar.