PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) menyampaikan versi koreksi atas laporan keuangan interim untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan perusahaan tercatat Rp12,05 triliun, naik 22,2 persen dari Rp9,86 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Namun laba bersih konsolidasian justru turun 43,3 persen, dari Rp277,13 miliar menjadi Rp157,03 miliar. Kas dan setara kas perusahaan pada akhir September 2026 tercatat Rp317,49 miliar, susut 62,3 persen dari Rp841,92 miliar pada akhir Desember 2025.
Penurunan laba terjadi meski laba kotor nyaris tidak bergerak, dari Rp599,30 miliar menjadi Rp603,45 miliar, sehingga margin kotor terhadap pendapatan justru menyusut dari 6,08 persen menjadi 5,01 persen. Beban usaha melonjak 32,6 persen menjadi Rp168,79 miliar dari Rp127,34 miliar, sementara beban bunga naik menjadi Rp165,35 miliar dari Rp149,05 miliar. Laba sebelum pajak turun menjadi Rp243,27 miliar dari Rp312,86 miliar, dan beban pajak yang ditanggung perusahaan melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi Rp86,24 miliar dari Rp35,74 miliar.
Meski laba bersih konsolidasian turun, laba per saham dasar justru naik dari Rp92 menjadi Rp112, karena porsi laba untuk pemegang saham pengendali naik 21,7 persen menjadi Rp224,48 miliar, sementara porsi untuk pemegang saham nonpengendali di anak usaha berbalik menjadi rugi Rp67,45 miliar dari sebelumnya untung Rp92,72 miliar. Dari sisi arus kas, kegiatan operasional perusahaan membukukan arus kas keluar bersih Rp122,40 miliar, berbalik dari arus kas masuk Rp6,89 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Utang bank jangka pendek naik menjadi Rp885,58 miliar dari Rp591,87 miliar, sementara perusahaan melunasi obligasi jangka pendek senilai Rp150 miliar dan membayar dividen tunai Rp77,88 miliar pada periode ini. Rasio lancar turun dari 172 persen menjadi 141 persen, ROE turun dari 16 persen menjadi 6,96 persen, dan ROA turun dari 5,63 persen menjadi 2,37 persen.
