PT Dewi Shri Farmindo Tbk (DEWI) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit yang ditelaah secara terbatas untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026, sekaligus surat penjelasan kepada OJK dan Bursa Efek Indonesia soal perubahan lebih dari 20 persen pada pos total liabilitas. Total liabilitas Perseroan naik 64,40 persen dari Rp19,42 miliar per 31 Desember 2025 menjadi Rp31,92 miliar per 30 Juni 2026. Kenaikan itu terutama berasal dari utang bank jangka pendek yang melonjak 509,43 persen, dari Rp4,56 miliar menjadi Rp27,76 miliar, sementara utang bank jangka panjang justru lunas seluruhnya dari Rp10,62 miliar menjadi nol.

Direktur Utama Aditiya Fajar Junus, dalam surat bertanggal 27 Agustus 2026, menyatakan pergeseran pendanaan itu merupakan bagian dari strategi untuk mendukung peningkatan aktivitas operasional dan ekspansi usaha. Penjualan Perseroan pada semester I 2026 tercatat Rp37,10 miliar, naik 44,88 persen dari Rp25,61 miliar pada semester I 2025, sedangkan laba bersih naik 42,61 persen dari Rp1,86 miliar menjadi Rp2,65 miliar. Laba per saham dasar ikut naik dari Rp0,93 menjadi Rp1,33 per lembar. Manajemen menegaskan kenaikan liabilitas tersebut tidak berdampak negatif material terhadap kelangsungan usaha karena diikuti pertumbuhan kinerja dan kemampuan membayar kewajiban.

Laporan ini juga mencatat total ekuitas Perseroan naik dari Rp163,01 miliar menjadi Rp165,66 miliar, dengan opini reviu wajar tanpa modifikasian dari KAP Jojo Sunarjo & Rekan lewat partner Mario Zulfa Nasution, tahun pertama menandatangani laporan Perseroan, menggantikan KAP Ramdany. Dalam catatan atas laporan keuangan disebutkan pula bahwa RUPS Tahunan pada 26 Juni 2026 menyetujui pengunduran diri Ferry Saputra dari jabatan Direktur dan mengangkatnya sebagai Komisaris Utama, serta peralihan 780.000.000 lembar saham atau senilai nominal Rp39 miliar milik almarhumah Greta Dewi Halim kepada ahli warisnya, Aditiya Fajar Junus, yang tercatat sebagai pemegang saham pengendali Perseroan.