Kementerian Perdagangan menggelar Indonesia Food & Beverage Trade Promotion Forum di Jakarta pada 11 Agustus 2026 untuk mendorong daya saing ekspor produk makanan dan minuman nasional. Namun data yang dipaparkan dalam forum tersebut justru memperlihatkan posisi Indonesia yang masih tertinggal dari sejumlah negara tetangga di ASEAN untuk komoditas yang sama.

Menurut Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri, pasar produk makanan dan minuman dunia mencapai USD512 miliar pada 2025, dengan pertumbuhan rata-rata 7 persen per tahun dalam lima tahun terakhir. Namun nilai ekspor makanan olahan Indonesia pada tahun yang sama hanya USD6,25 miliar, menempatkan Indonesia di peringkat keempat ASEAN, di bawah Thailand yang mencatat USD17,69 miliar, Vietnam USD8,89 miliar, dan Singapura USD6,5 miliar.

Wamendag menyebut sejumlah kendala yang masih dihadapi pelaku usaha, terutama UMKM, untuk menembus pasar ekspor, antara lain pemenuhan standar mutu internasional, sertifikasi keamanan pangan, ketentuan label dan kemasan, akses pembiayaan, serta pemanfaatan teknologi. Kementerian Perdagangan menyatakan akan memperkuat ekosistem ekspor lewat pendampingan kualitas produk, penyederhanaan birokrasi, dan perluasan akses pasar, meski belum merinci target waktu atau anggaran untuk langkah-langkah tersebut.

Forum ini turut menghadirkan perwakilan Bank Indonesia, Kementerian UMKM, dan Kementerian Perindustrian, serta pelaku usaha ekspor mamin yang sudah merambah pasar Eropa seperti Yunani, Prancis, Jerman, dan Spanyol.