Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri membuka ajang FashionLink Jakarta Fashion Week (JFW) 2027 di Jakarta, Senin (26/10), sambil mendorong industri fesyen lokal memperkuat daya saing lewat perbaikan rantai produksi dari hulu ke hilir, inovasi berkelanjutan, dan kerja sama antarpemangku kepentingan. Ia menekankan ajang semacam ini perlu menghasilkan kepastian pasar dan peluang ekspor, bukan sekadar panggung peragaan busana.
Kementerian Perdagangan mencatat ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia pada Januari-Agustus 2026 mencapai US$8,15 miliar, dengan surplus perdagangan US$2,18 miliar. Ekspor pakaian jadi menjadi penyumbang terbesar, yakni US$5,90 miliar atau 72,4 persen dari total, tetapi pertumbuhannya hanya 2,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini masih jauh dari potensi pasar pakaian jadi dunia yang diproyeksikan tembus US$1,80 triliun pada 2026.
Untuk memperluas akses pasar, JFW mengembangkan platform ritel seperti FashionLink dan Dewi's Luxe Market yang mempertemukan desainer, pelaku usaha, dan UMKM langsung dengan pembeli, dengan dukungan BTN sebagai mitra perbankan. Kerja sama JFW dengan DORS Singapura sudah berjalan dua tahun, sementara inisiatif Jakarta Fashion Force diklaim membantu desainer lokal ikut pameran luar negeri hingga memperoleh pesanan berulang dari pembeli asing.
Kementerian Perdagangan menyebut langkah ke depan akan difokuskan pada peningkatan penggunaan bahan baku dalam negeri, pengembangan desain, pemenuhan standar internasional, serta kolaborasi lintas sektor antara industri, desainer, dan UMKM agar produk fesyen Indonesia lebih dipercaya konsumen global.
