PT Sentra Food Indonesia Tbk (FOOD) melaporkan kepada Bursa Efek Indonesia bahwa penjualan bersihnya naik 11,5 persen menjadi Rp72,73 miliar pada sembilan bulan pertama 2026, dari Rp65,25 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Namun kenaikan penjualan itu tidak cukup menutup beban perusahaan. Beban pokok penjualan naik lebih cepat, sehingga laba kotor justru turun menjadi Rp8,00 miliar dari Rp9,05 miliar. Perusahaan mencatat rugi bersih Rp17,66 miliar untuk periode sembilan bulan ini, naik dari rugi Rp16,16 miliar pada periode yang sama tahun 2025.
Dari sisi neraca, total aset FOOD turun menjadi Rp41,70 miliar per 30 September 2026 dari Rp46,76 miliar per akhir Desember 2025, sementara total liabilitas naik menjadi Rp83,27 miliar dari Rp70,67 miliar. Utang bank jangka pendek melonjak hampir dua kali lipat menjadi Rp11,12 miliar dari Rp5,73 miliar, dan utang usaha kepada pihak ketiga bertambah menjadi Rp37,94 miliar dari Rp32,64 miliar. Akibatnya, defisiensi modal atau ekuitas negatif perusahaan melebar menjadi Rp41,58 miliar dari Rp23,91 miliar pada akhir 2025, yang berarti total utang perusahaan sudah jauh melampaui total asetnya.
Beban keuangan, yaitu bunga dan biaya pinjaman yang harus dibayar perusahaan, naik menjadi Rp1,37 miliar dari Rp794 juta pada periode yang sama tahun lalu. Arus kas yang terpakai untuk kegiatan operasional juga melebar menjadi Rp4,25 miliar dari Rp2,95 miliar, tanda bahwa kegiatan usaha sehari-hari perusahaan masih menguras kas lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. Rugi per saham dasar dan dilusian tercatat Rp18,84, sedikit lebih kecil dari Rp19,88 pada periode yang sama tahun lalu, karena porsi rugi yang ditanggung pemegang saham nonpengendali di anak usaha membesar menjadi Rp5,42 miliar dari Rp3,24 miliar. Perusahaan saat ini tercatat di Papan Pemantauan Khusus Bursa Efek Indonesia, papan bagi emiten dengan kondisi keuangan atau kepatuhan yang memerlukan perhatian lebih.
