PT Futura Energi Global Tbk (FUTR) melaporkan rugi bersih Rp7,75 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, berbalik dari laba Rp3,70 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan turun 64,2 persen, dari Rp33,94 miliar menjadi Rp12,14 miliar, sementara laba bruto susut dari Rp11,78 miliar menjadi Rp5,16 miliar. Beban umum dan administrasi justru naik dari Rp8,13 miliar menjadi Rp13,00 miliar, sehingga perusahaan yang semula membukukan laba usaha Rp3,64 miliar kini merugi usaha Rp7,83 miliar. Laba per saham ikut berbalik dari Rp0,58 menjadi rugi Rp1,17 per saham.

Di sisi liabilitas, Futura mencatat utang baru kepada pihak berelasi, PT Amartya Inti Investama, senilai Rp7,24 miliar yang sebelumnya tidak ada di akhir 2025. Perusahaan juga menerima uang muka pelanggan Rp1,05 miliar atas proyek yang belum selesai, seiring nilai proyek dalam pelaksanaan yang naik 170,5 persen menjadi Rp3,25 miliar. Total ekuitas turun dari Rp176,59 miliar menjadi Rp168,84 miliar, sejalan dengan kerugian periode berjalan, sementara total aset relatif stabil di kisaran Rp202,91 miliar, didukung penempatan deposito baru senilai sekitar Rp33,6 miliar pada pos aset lancar lainnya.

Dari sisi kas, kegiatan operasional menyedot kas neto Rp25,88 miliar, lebih besar dibanding Rp16,16 miliar pada periode sembilan bulan 2025. Kekurangan ini tertutup oleh aktivitas pendanaan yang menyumbang kas masuk Rp25,84 miliar, terutama dari pengembalian uang muka senilai Rp25 miliar dan penerimaan utang pihak berelasi Rp4,39 miliar, sehingga posisi kas akhir periode relatif terjaga di Rp30,66 miliar, hampir sama dengan posisi akhir 2025. Perusahaan, yang sebelumnya bernama PT Lini Imaji Kreasi Ekosistem Tbk, memiliki dua entitas anak, yakni PT Futura Energi Prima di bidang informasi dan komunikasi dengan aset Rp11,62 miliar, serta PT Hexa Putra Mekanikal yang bergerak di jasa instalasi dan konstruksi dengan aset Rp41,63 miliar.