PT Globe Kita Terang Tbk (GLOB), dahulu bernama PT Global Teleshop Tbk, melaporkan laba bersih Rp53,26 juta untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, turun tajam 96 persen dibandingkan Rp1,34 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Pendapatan bersih perusahaan ritel elektronik ini juga turun dari Rp39,62 miliar menjadi Rp30,24 miliar, sedangkan laba usaha merosot dari Rp1,34 miliar menjadi hanya Rp59 juta akibat naiknya beban umum dan administrasi serta turunnya pendapatan lain-lain. Laba per saham dasar ikut turun dari Rp1,20 menjadi Rp0,05.
Dari sisi posisi keuangan, GLOB masih mencatat defisiensi modal alias ekuitas negatif sebesar Rp1,203 triliun per akhir September 2026, hanya membaik tipis dari minus Rp1,203 triliun pada akhir 2025. Total aset perusahaan hanya Rp3,63 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan total liabilitas yang mencapai Rp1,207 triliun. Komponen liabilitas terbesar adalah beban akrual jangka pendek Rp516,32 miliar, utang usaha kepada pihak berelasi Rp214,04 miliar, dan bagian utang bank jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun sebesar Rp450,38 miliar. Saham GLOB saat ini tercatat di papan pemantauan khusus atau watchlist Bursa Efek Indonesia.
Kas dan setara kas perusahaan naik dari Rp280,82 juta menjadi Rp563,65 juta, ditopang arus kas dari aktivitas operasi yang positif Rp7,27 miliar. Selama sembilan bulan ini, GLOB membayar cicilan utang bank Rp6,9 miliar dan utang pembiayaan konsumen Rp87,39 juta, tanpa ada aktivitas investasi berarti. Laporan keuangan interim ini bersifat tidak diaudit dan ditandatangani Direktur Utama Sugiono Wyono Sugialam serta Direktur Djoko Harijanto pada 28 Oktober 2026, sesuai kewajiban keterbukaan informasi kuartalan Bursa Efek Indonesia.
