PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) mencatat pendapatan sebesar US$413,4 juta untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, naik 34,6 persen dibanding US$307,1 juta pada periode yang sama tahun lalu, menurut laporan keuangan interim tidak diaudit yang disampaikan perseroan ke Bursa Efek Indonesia pada 2 November 2026. Kenaikan pendapatan ini tidak banyak terasa di laba bersih: laba periode berjalan tercatat US$22,14 juta, nyaris sama dengan US$22,33 juta pada periode yang sama 2025, karena beban material melonjak dari US$85,53 juta menjadi US$170,66 juta dan beban pegawai naik dari US$89,11 juta menjadi US$95,91 juta. Laba sebelum pajak malah turun tipis dari US$27,25 juta menjadi US$26,36 juta, sementara beban keuangan mengecil dari US$14,85 juta menjadi US$11,61 juta seiring penurunan saldo pinjaman jangka panjang.
Total aset GMF naik dari US$812,98 juta pada akhir 2025 menjadi US$832,56 juta pada akhir September 2026, sementara total liabilitas turun dari US$698,41 juta menjadi US$676,80 juta. Perubahan paling mencolok ada di pos ekuitas, yang melonjak dari US$114,57 juta menjadi US$155,76 juta setelah perseroan menjalankan kuasi reorganisasi pada 31 Januari 2026, yaitu penghapusan akumulasi kerugian lama sebesar US$512,87 juta terhadap modal disetor. Lewat proses ini, nilai nominal saham berubah dari Rp100 per saham seri A dan Rp25 per saham seri B menjadi seragam Rp19 per saham, dan saldo laba yang sebelumnya defisit kini tercatat positif US$11,97 juta.
Jumlah saham seri B yang beredar juga bertambah dari 91,79 miliar lembar pada akhir 2025 menjadi 96,60 miliar lembar pada akhir September 2026, seiring penerbitan saham baru senilai US$19,46 juta yang tercatat dalam laporan perubahan ekuitas periode berjalan. Penambahan jumlah saham ini membuat laba bersih per saham dasar dan dilusian turun dari US$0,00060 pada September 2025 menjadi US$0,00018 pada September 2026, meski laba bersih total relatif stabil.
