PT Griptha Putra Persada Tbk (GRPH) menyampaikan materi Public Expose Insidentil melalui surat Nomor 024/GPP/CORSEC/SPb/IX/2026 tertanggal 14 September 2026, ditandatangani Direktur Utama Edwin Leonardo dan dikirim oleh Sekretaris Perusahaan Fransiska Bella Yunita. Paparan publik ini digelar Selasa, 15 September 2026 melalui Zoom Meeting, sebagai pemenuhan permintaan Bursa Efek Indonesia menyusul Pengumuman Bursa Nomor Peng-SPT-00169/BEI.WAS/09-2026 tentang penghentian sementara perdagangan (suspensi) saham GRPH di pasar reguler dan pasar tunai sejak 8 September 2026.

Materi tersebut memuat ikhtisar keuangan per Juni 2026. Total aset turun tipis 0,4 persen dari Rp100,51 miliar pada Desember 2025 menjadi Rp100,11 miliar, disebabkan turunnya kas dan bank sebesar Rp207 juta yang dipakai membayar utang dagang ke pemasok dan utang pajak. Total liabilitas turun 7,1 persen dari Rp22,97 miliar menjadi Rp21,35 miliar karena Perseroan mencicil utang bank sesuai jadwal, sementara total ekuitas naik 1,6 persen dari Rp77,53 miliar menjadi Rp78,76 miliar seiring bertambahnya saldo laba.

Dari sisi operasional, pendapatan naik 6,7 persen dari Rp14,73 miliar pada Juni 2025 menjadi Rp15,72 miliar pada Juni 2026, ditopang pendapatan kamar yang melonjak 18,62 persen dari Rp6,5 miliar menjadi Rp7,7 miliar. Namun laba bruto hanya naik 0,5 persen menjadi Rp7,96 miliar karena harga pokok penjualan turut naik dari Rp6,8 miliar menjadi Rp7,75 miliar, sedangkan laba usaha naik 4,4 persen menjadi Rp1,23 miliar. Tingkat hunian kamar per 30 Juni 2026 tercatat 69,83 persen, naik dari 68,10 persen setahun sebelumnya.

Materi juga mencantumkan komposisi pemegang saham per Juni 2026: PT Mulia Jaya Palma menguasai 70,24 persen saham GRPH, masyarakat 29,26 persen, dan sisanya 0,50 persen tercatat sebagai saham treasuri Perseroan. PT Mulia Jaya Palma sendiri dimiliki oleh Samuel Jeffrey Christiawan S sebesar 99,9 persen dan Antanius Feliks Santoso 0,01 persen. Untuk 2026, Perseroan menyebut strategi intinya adalah menaikkan okupansi, mengoptimalkan tarif kamar, mendongkrak pendapatan F&B, mengembangkan bisnis MICE, serta memperbaiki efisiensi arus kas.