PT Grahaprima Suksesmandiri Tbk (GTRA) menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan perusahaan logistik angkutan darat ini naik dari Rp454,67 miliar pada sembilan bulan 2025 menjadi Rp689,53 miliar pada periode yang sama tahun ini, atau tumbuh sekitar 52 persen. Laba bruto naik dari Rp154,62 miliar menjadi Rp259,62 miliar, sementara laba bersih yang bisa dinikmati pemegang saham melonjak dari Rp44,85 miliar menjadi Rp87,84 miliar, hampir dua kali lipat. Laba per saham dasar pun naik dari Rp23,64 menjadi Rp46,14.
Dalam surat terpisah kepada Bursa Efek Indonesia, Direktur Utama GTRA Ronny Senjaya menjelaskan lonjakan lebih dari 20 persen pada total aset dan liabilitas perusahaan. Total aset naik Rp833,27 miliar atau 67 persen, dari Rp1,24 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp2,08 triliun pada akhir September 2026, terutama karena aset tetap bertambah Rp694,74 miliar atau 73 persen seiring pembelian kendaraan baru. Total liabilitas naik lebih tajam lagi, yakni Rp745,42 miliar atau 87 persen menjadi Rp1,60 triliun, didorong tambahan pinjaman bank senilai Rp317,94 miliar dari PT Bank Shinhan Indonesia dan PT Bank Central Asia Tbk untuk membeli 250 unit truk, serta utang pembiayaan konsumen yang naik Rp392,30 miliar untuk membiayai pembelian 483 unit truk lainnya dari beberapa perusahaan pembiayaan. Dengan demikian, GTRA menambah total 733 truk baru dalam periode ini.
Dari sisi kas, arus kas dari aktivitas operasi tercatat Rp28,32 miliar, lebih rendah dibanding Rp46,74 miliar pada sembilan bulan 2025. Perusahaan mencatat arus kas investasi positif Rp88,26 miliar, terutama dari penjualan aset tetap senilai Rp73,17 miliar, sementara aktivitas pendanaan mencatat arus kas keluar neto Rp100,37 miliar, termasuk pembayaran utang pembiayaan konsumen Rp82,27 miliar dan pelunasan pinjaman bank Rp31,51 miliar. Kas dan setara kas perusahaan naik Rp16,21 miliar menjadi Rp35,91 miliar pada akhir September 2026. Total ekuitas tumbuh dari Rp386,55 miliar menjadi Rp474,40 miliar, didorong laba berjalan yang ditahan, tanpa pembagian dividen pada periode ini.
