Dalam surat jawaban kepada Bursa Efek Indonesia, PT Aman Agrindo Tbk (GULA) menjelaskan penjualannya pada kuartal II 2026 melonjak 121,69 persen menjadi Rp144,32 miliar, dari Rp65,13 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan menyebut lonjakan ini terutama ditopang pelanggan baru, yakni PT Maju Untung Bersama yang membeli gula senilai Rp43,14 miliar dan PT Kino Indonesia Tbk senilai Rp9,05 miliar. Pembelian dari pelanggan lama, PT Bersama Era Sentosa Tama, juga melonjak dari Rp6,55 miliar menjadi Rp28,47 miliar, sementara pelanggan terbesar, CV Sari Makmur Jaya, tetap stabil di kisaran Rp56,59 miliar.
Di sisi lain, kas dan setara kas perusahaan turun 73,1 persen, dengan arus kas dari kegiatan operasi tercatat negatif Rp29,40 miliar. Manajemen menyebut penyebabnya adalah pembayaran kepada pemasok mesin Henan Ocean Machinery Equipment dan kontraktor, ditambah pembayaran bunga pinjaman bank yang lebih besar dari penerimaan kas dari pelanggan. Pinjaman ke PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) per 30 Juni 2026 sudah terpakai Rp74,99 miliar dari plafon Rp75 miliar, dengan bunga 11 persen dan jatuh tempo 20 Agustus 2026 yang diperpanjang hingga 20 November 2026. Perusahaan mengakui belum memenuhi satu syarat pinjaman dari BRI, yaitu kewajiban mengendapkan rata-rata dana di rekening bank (CASA) senilai 20 persen dari plafon kredit, dan menyatakan akan meminta keringanan ke bank jika terjadi pelanggaran syarat tersebut.
Perusahaan juga mengungkapkan uang muka pembelian gula senilai Rp14 miliar kepada pemasok PT Sumber Mutiara Indah Perdana belum berubah sejak akhir 2025 karena pemasok itu berhenti beroperasi akibat kasus hukum yang masih berjalan di Kejaksaan. Aman Agrindo berencana mencadangkan penghapusan uang muka tersebut jika penagihan tidak berhasil sampai akhir tahun ini. Soal dana hasil penawaran umum, realisasi per 30 Juni 2026 untuk pembangunan pabrik dan modal kerja sudah 100 persen terpakai, masing-masing Rp10,07 miliar dan Rp28,88 miliar, sementara pembelian dan instalasi mesin baru terealisasi 89 persen atau Rp10,18 miliar dari rencana Rp11,39 miliar, menyisakan Rp1,22 miliar. Perusahaan juga mengakui sejumlah temuan Bursa soal laporan keuangannya, termasuk ketidaksesuaian penyajian liabilitas sewa dan tertukarnya judul Catatan 27 dan 28, yang disebut akan menjadi perhatian untuk pelaporan berikutnya.
