PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) membukukan penjualan neto konsolidasi Rp101,49 triliun untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, tumbuh 12% dari Rp90,98 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba usaha naik lebih tinggi, yakni 15% menjadi Rp20,80 triliun dari Rp18,10 triliun, sehingga marjin laba usaha membaik dari 19,9% menjadi 20,5%.
Namun laba periode berjalan yang menjadi hak pemilik entitas induk relatif stagnan di kisaran Rp7,87 triliun. Perseroan menyebut hal ini disebabkan oleh meningkatnya rugi selisih kurs yang belum terealisasi dari aktivitas pendanaan, terutama terkait obligasi berdenominasi dolar AS yang diterbitkan oleh entitas anak usahanya, Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP), seiring pelemahan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, core profit yang disebut Indofood mencerminkan kinerja operasional sesungguhnya naik 11% menjadi Rp9,37 triliun dari Rp8,42 triliun.
Direktur Utama dan Chief Executive Officer Indofood, Anthoni Salim, mengatakan performa ini didukung oleh model bisnis yang terintegrasi secara vertikal di empat kelompok usaha strategis perusahaan, yaitu produk konsumen bermerek, Bogasari, agribisnis, dan distribusi. Ia menyebut perusahaan akan tetap fokus menjaga pertumbuhan berkelanjutan, menyeimbangkan pangsa pasar dengan profitabilitas, serta mempertahankan posisi neraca yang sehat.
