PT Royalindo Investa Wijaya Tbk (INDO) menyampaikan koreksi laporan keuangan interim untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, tidak diaudit, melalui surat bernomor 079/DIR-RIW/XI/2026 yang diteken Direktur Utama Leslie Soemedi pada 28 Oktober 2026. Laba periode berjalan tercatat Rp36,68 miliar, naik 49,3 persen dari Rp24,58 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Dari jumlah itu, Rp37,34 miliar menjadi bagian pemegang saham induk, sementara kepentingan nonpengendali di anak usaha justru menanggung rugi Rp659 juta. Laba per saham dasar naik dari Rp5,53 menjadi Rp8,34.

Pendapatan perusahaan tumbuh 27,8 persen menjadi Rp28,36 miliar dari Rp22,19 miliar, dengan laba bruto Rp17,51 miliar. Kenaikan laba bersih banyak ditopang penghasilan usaha lain-lain neto yang melonjak jadi Rp32,75 miliar dari Rp17,27 miliar setahun sebelumnya. Total aset per akhir September 2026 mencapai Rp1,19 triliun, naik dari Rp1,14 triliun di akhir 2025, dan ekuitas ikut naik menjadi Rp1,18 triliun dari Rp1,14 triliun. Namun kas dan setara kas justru menyusut jadi Rp267,05 miliar dari Rp280,43 miliar, karena arus kas dari aktivitas operasi berbalik menjadi negatif Rp1,28 miliar, dibanding positif Rp12,57 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Liabilitas perusahaan naik 28 persen, dari Rp7,31 miliar menjadi Rp9,37 miliar, terutama didorong utang usaha pihak ketiga yang melonjak dari Rp4,25 juta menjadi Rp4,16 miliar. Dalam surat penjelasan yang juga diteken Leslie Soemedi, manajemen menyebut kenaikan liabilitas ini seiring mulai beroperasinya kegiatan produksi anak usaha PT Ratu Gula Asia, perusahaan perkebunan tebu dan gula pasir yang 71,68 persen sahamnya dimiliki INDO. Meski demikian, daftar entitas anak yang dilampirkan dalam laporan yang sama masih mencantumkan status operasi PT Ratu Gula Asia sebagai 'belum beroperasi' dengan tahun komersial tercatat nol.