PT Indospring Tbk mengirim ulang laporan keuangan konsolidasian interim untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 ke Bursa Efek Indonesia pada 30 Oktober 2026 sebagai koreksi atas laporan sebelumnya. Surat pengantar bernomor 328/ISP-CorSec/X/2026 ditandatangani Direktur Bob Budiono dan dikirim ke Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Non Group BEI, mengacu pada Peraturan OJK Nomor 14/POJK.04/2022 tentang Penyampaian Laporan Keuangan Berkala. Laporan ini tidak diaudit dan mencakup konsolidasi dengan empat anak usaha, yakni PT MK Prima Indonesia, produsen rem kendaraan roda empat di Gresik dengan kepemilikan 51 persen, PT Indonesia Prima Spring, produsen pegas kendaraan dan kereta api dengan kepemilikan 99,9 persen yang saat ini tidak beroperasi, PT Indobaja Prima Murni, produsen alat potong dan perkakas pertanian dengan kepemilikan 96,5 persen, serta PT Sinar Indra Nusa Jaya, perusahaan perdagangan suku cadang kendaraan dengan kepemilikan 99 persen.
Penjualan neto Indospring tercatat Rp2,84 triliun pada sembilan bulan 2026, naik 15,3 persen dari Rp2,46 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun laba bruto justru turun tipis menjadi Rp341,4 miliar dari Rp346,6 miliar karena beban pokok penjualan naik lebih cepat, dari Rp2,11 triliun menjadi Rp2,50 triliun. Laba usaha tergerus 12,3 persen menjadi Rp102,2 miliar, dan setelah beban bunga melonjak dari Rp10,6 miliar menjadi Rp14,2 miliar, laba bersih perusahaan turun 3,5 persen menjadi Rp68,2 miliar dari Rp70,7 miliar. Dari jumlah itu, Rp50,2 miliar menjadi bagian pemegang saham induk, sehingga laba per saham turun dari Rp7,98 menjadi Rp7,65.
Total aset Indospring naik menjadi Rp4,67 triliun per 30 September 2026 dari Rp4,46 triliun di akhir 2025, sementara total liabilitas melonjak 17,2 persen menjadi Rp1,05 triliun dari Rp894,6 miliar, terutama karena pinjaman bank jangka pendek naik dari Rp210,7 miliar menjadi Rp268 miliar. Kas dan setara kas perusahaan justru menyusut hampir separuh, dari Rp55,8 miliar menjadi Rp30,9 miliar, akibat pembayaran utang bank jangka panjang Rp20,25 miliar, dividen tunai Rp32,8 miliar, serta pembayaran ke pemegang saham nonpengendali anak usaha sebesar Rp8,97 miliar. Total ekuitas perusahaan tetap naik menjadi Rp3,62 triliun dari Rp3,57 triliun, didukung oleh laba komprehensif periode berjalan sebesar Rp93,8 miliar.
