Direksi PT Era Graharealty Tbk (IPAC) menyampaikan keterbukaan informasi kepada pemegang saham soal rencana mengubah status perusahaan dari terbuka menjadi tertutup sekaligus menghapus pencatatan sahamnya dari Bursa Efek Indonesia. Perseroan menyebut tiga alasan: sudah tidak memerlukan pendanaan lewat pasar modal dan tidak berencana menggalang dana lagi ke depan, ingin menekan biaya operasional agar lebih kompetitif, serta ingin fleksibilitas lebih besar untuk pengembangan bisnis dan restrukturisasi kepemilikan di dalam grup usahanya. Rencana ini wajib mendapat restu dari pemegang saham independen, yakni pemegang saham yang bukan direksi, komisaris, pemegang saham utama, atau afiliasi mereka, melalui rapat umum pemegang saham luar biasa. Surat permohonan pembatalan pencatatan ke BEI, bernomor 132/ERA/IX/26, sudah dikirim sejak 7 September 2026 dengan tembusan ke OJK.
Jika rencana ini disetujui, APAC Investment 2 Pte Ltd, pemegang saham pengendali IPAC dengan kepemilikan 860.562.600 saham atau 90,60 persen, akan membeli balik saham milik publik lewat penawaran tender sukarela. Jumlah yang ditawar untuk dibeli sebanyak-banyaknya 89.305.900 saham atau sekitar 9,4 persen dari total 948.868.500 saham beredar Perseroan, dengan harga Rp250 per saham. Harga itu dihitung berdasarkan formula POJK 45/2024, yang mewajibkan harga beli lebih tinggi dari rata-rata harga tertinggi perdagangan harian di bursa selama 90 hari bursa sebelum pengumuman RUPS, yang tercatat Rp173 per saham, sehingga premi yang ditawarkan sekitar 44,5 persen di atas rata-rata itu. Pemegang saham publik yang tidak menjual sahamnya dalam penawaran tender akan tetap menjadi pemegang saham Perseroan, hanya saja sahamnya sudah tidak lagi tercatat di bursa begitu status tertutup berlaku. Pemilik manfaat akhir APAC Investment 2 Pte Ltd tercatat sebagai Morgan Stanley.
RUPSLB untuk membahas rencana go private dan delisting ini dijadwalkan Selasa, 20 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB, di kantor pusat Perseroan, TCC Batavia Tower One Lantai 8 Suite 3-5, Jakarta. Era Graharealty menjalankan usaha waralaba dan jasa agen real estat lewat merek ERA sejak 1992, dengan 16 anak usaha broker properti yang seluruhnya mayoritas dimiliki Perseroan. Dari sisi keuangan, ekuitas Perseroan naik dari Rp34,73 miliar pada 2023 menjadi Rp40,59 miliar pada 2025, sementara pendapatan naik dari Rp28,79 miliar menjadi Rp58,5 miliar pada periode yang sama. Namun laba tahun berjalan sempat anjlok dari Rp2,85 miliar pada 2023 menjadi Rp461,9 juta pada 2024, sebelum naik lagi menjadi Rp1,48 miliar pada 2025, mengikuti pola yang sama dengan laba per saham yang bergerak dari Rp3,35 ke Rp0,49 lalu ke Rp1,56 pada tiga tahun tersebut.
