PT Era Graharealty Tbk (IPAC), pemegang waralaba agen properti ERA di Indonesia, menerbitkan tambahan keterbukaan informasi pada 16 Oktober 2026 yang melengkapi dokumen serupa yang sudah terbit pada 11 September 2026 soal rencana perubahan status dari perusahaan terbuka menjadi tertutup (go private) sekaligus penghapusan pencatatan saham dari Bursa Efek Indonesia (delisting). Latar belakangnya, perdagangan saham IPAC sudah dihentikan sementara oleh BEI sejak sesi pertama 11 September 2026, menyusul surat permohonan delisting yang diajukan perseroan pada 7 September 2026. Manajemen beralasan perseroan sudah tidak memerlukan pendanaan dari pasar modal, ingin menekan biaya operasional, dan membutuhkan keleluasaan lebih besar untuk restrukturisasi usaha ke depan.

Berdasarkan Daftar Pemegang Saham per 31 Agustus 2026, APAC Investment 2 Pte Ltd selaku pengendali menguasai 860.562.600 saham atau 90,60 persen dari total 948.868.500 saham IPAC, sementara publik memegang 89.305.900 saham atau 9,40 persen. Rencana go private dan delisting ini baru bisa berjalan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham independen, yaitu pemegang saham yang tidak punya kepentingan ekonomi pribadi dan bukan bagian dari direksi, komisaris, atau pengendali perseroan, melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan 20 Oktober 2026.

Jika RUPSLB menyetujui, APAC Investment 2 Pte Ltd akan membuka penawaran tender sukarela untuk membeli saham milik pemegang saham publik. Dana pembeliannya berasal dari pinjaman APAC Realty Limited, pemegang saham tunggal APAC Investment 2 Pte Ltd, melalui perjanjian pinjaman yang diteken 13 Oktober 2026 dan bersumber dari kas internal APAC Realty, tanpa pembatasan penggunaan dana. Dokumen ini juga mengungkap bahwa pemilik manfaat akhir dari APAC Investment 2 Pte Ltd adalah Morgan Stanley, perusahaan jasa keuangan Amerika Serikat yang tercatat di New York Stock Exchange. Harga penawaran tender sukarela sendiri belum tercantum dalam bagian dokumen yang tersedia.

Dari sisi kinerja, laporan keuangan konsolidasian IPAC per 31 Desember 2025 mencatat pendapatan Rp58,5 miliar, naik dari Rp44,7 miliar pada 2024. Laba tahun berjalan tercatat Rp1,48 miliar, melonjak dari Rp461,9 juta pada 2024, meski masih di bawah Rp2,85 miliar pada 2023. Ekuitas perseroan naik menjadi Rp40,59 miliar dengan laba per saham Rp1,56, dibandingkan Rp0,49 pada 2024.