PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA), distributor alat kesehatan dan laboratorium, menyampaikan laporan keuangan interim untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, tidak diaudit, kepada Bursa Efek Indonesia pada 30 Oktober 2026. Perseroan sekaligus mengirim surat keterangan khusus karena mencatat kenaikan total aset Rp823,1 miliar atau 33,83 persen menjadi Rp3,26 triliun, serta kenaikan total liabilitas Rp775,78 miliar atau 41,82 persen menjadi Rp2,63 triliun, dibandingkan posisi akhir 2025. Corporate Secretary Viertin M.L. Tobing menjelaskan kenaikan aset terutama berasal dari reklasifikasi persediaan menjadi aset tetap, kenaikan klaim pengembalian pajak, dan kenaikan beban dibayar di muka, sementara kenaikan liabilitas didorong oleh utang dagang dan utang bank yang membesar.

Dari sisi laba rugi, penjualan neto turun 6 persen menjadi Rp952,77 miliar dari Rp1,01 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Meski penjualan turun, laba kotor justru naik dari Rp185,51 miliar menjadi Rp212,43 miliar karena beban pokok penjualan ditekan lebih dalam. Beban umum dan administrasi naik 27 persen menjadi Rp96,73 miliar, sementara beban bunga turun dari Rp41,46 miliar menjadi Rp23,98 miliar. Laba bersih periode berjalan naik 6,1 persen menjadi Rp47,33 miliar dari Rp44,61 miliar, dengan laba per saham dasar naik dari Rp29,58 menjadi Rp31,39.

Di balik laba yang tetap tumbuh, arus kas dari aktivitas operasi justru makin negatif, dari minus Rp249,80 miliar menjadi minus Rp384,79 miliar, terutama karena pembayaran kepada pemasok yang jauh lebih besar dibanding penerimaan dari pelanggan. Lubang kas ini ditambal dengan pendanaan dari bank: penerimaan utang bank baru naik dari Rp1,07 triliun menjadi Rp1,35 triliun, dan utang bank jangka panjang melonjak dari Rp249,49 miliar menjadi Rp573,90 miliar. Akibatnya, saldo kas dan bank Perseroan merosot tajam dari Rp80,13 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp18,87 miliar pada akhir September 2026.