JAPFA Comfeed Indonesia (JPFA) menggelar public expose tahunan pada 22 Oktober 2026 pukul 10.30 sampai 11.50 WIB di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, dihadiri 27 peserta di luar jajaran manajemen dan karyawan perseroan. Tiga direktur hadir dalam acara ini, yaitu Leo Handoko Laksono, Rachmat Indrajaya, dan Arif Widjaja, yang memaparkan kinerja perseroan hingga 30 Juni 2026 sekaligus menjawab pertanyaan dari analis dan media yang hadir.

Menjawab pertanyaan soal program pembelian kembali saham (buyback) yang mandatnya disetujui dalam RUPS April lalu, Direktur Erwin Djohan mengatakan perseroan belum menetapkan target jumlah atau nilai pembelian, dan pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi likuiditas perseroan. Soal rencana divestasi anak usaha Vaksindo, manajemen mengakui rasio imbal hasil ekuitas (ROE) akan turun begitu transaksi selesai, namun menyebut penurunan itu terjadi karena dana dari divestasi menambah ekuitas perseroan, yang menurut mereka membuka ruang untuk investasi baru di bisnis hulu maupun hilir. Di sisi keberlanjutan, Direktur Elvina Apandi Hermansyah menyebut target bebas batu bara yang semula dipatok untuk 2040 sudah tercapai lebih cepat, dan perseroan kini mengincar target net zero untuk emisi langsung dari operasionalnya (Scope 1) pada 2030 serta penerapan 100 persen kandang tertutup baru.

Terkait belanja modal, Erwin menyebut capex semester satu 2026 sudah mencapai Rp2,16 triliun karena bertumpuknya penyelesaian proyek 2025 dengan proyek baru di 2026, dan memperkirakan realisasi capex sepanjang tahun ini bisa menembus di atas Rp4 triliun. Sekitar 30 persen dari belanja itu dialokasikan untuk peremajaan kandang lama, sementara sisanya untuk proyek baru seperti pabrik pakan udang di Jawa Timur, pabrik pakan unggas, rumah potong hewan baru, dan lini produksi makanan olahan siap masak. Soal dividen, manajemen menegaskan belum ada keputusan pembagian dividen interim tahun ini, sementara dividen tahun buku 2025 yang sudah dibagikan di RUPS lalu sekitar Rp140 per saham dengan laba per saham sekitar Rp344, meski manajemen sendiri menyampaikan angka itu dengan tidak terlalu yakin. Manajemen tidak memberikan target atau proyeksi resmi laba untuk 2026 maupun 2027, hanya menyebut tahun lalu pendapatan konsolidasi mencapai Rp60 triliun dengan laba bersih sekitar Rp4 triliun, dan menyebut kenaikan harga bahan baku sebagai tantangan utama tahun ini.