Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mendorong Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali menjadi simpul kerja sama riset dan industri antara Indonesia dan Tiongkok, lewat skema Two Countries Twin Parks (TCTP). Arah ini dibahas dalam forum pendidikan tinggi dan industri China-Asia Tenggara yang berlangsung di kawasan tersebut pada 4 Oktober 2026, dengan kawasan diarahkan mendukung pengembangan kecerdasan buatan, riset digital, semikonduktor, hingga teknologi kuantum.
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon, menyebut skema TCTP menghubungkan sumber daya dan lokasi strategis Indonesia dengan kapasitas teknologi dan industri Tiongkok. Secara keseluruhan, Indonesia kini memiliki 25 KEK dengan luas sekitar 23.797,88 hektare, mencatat investasi kumulatif sekitar US$20,7 miliar dari 481 badan usaha, dan menyerap lebih dari 283 ribu lapangan kerja. Pada triwulan II 2026, 97 dari 481 perusahaan tenant KEK, atau sekitar 20 persen, berasal dari Tiongkok.
Khusus di KEK Kura-Kura Bali, realisasi investasi kumulatif hingga semester I 2026 tercatat Rp1,8 triliun dengan penyerapan 2.173 tenaga kerja dan 131.657 kunjungan ke kawasan tersebut. Di sisi riset, Tsinghua Southeast Asia Center yang berada di kawasan ini sudah menjalankan program di bidang fisika dan neurosains, serta menginisiasi forum semikonduktor bersama Tsinghua University.
Pemerintah menyebut kerja sama ke depan tidak lagi difokuskan semata pada peningkatan jumlah investasi, tetapi juga pada penguatan teknologi, riset, sumber daya manusia, dan kapasitas industri nasional. Acara ini turut dihadiri Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, pejabat Tsinghua University, Konsul Jenderal Tiongkok di Denpasar, serta perwakilan pemerintah daerah Guizhou dan sekretariat kerja sama pendidikan China-ASEAN.
