World Coconut Day 2026 resmi dibuka pada Kamis (8/10) di Manado, Sulawesi Utara, dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyoroti langsung cara petani membudidayakan kelapa yang menurutnya masih dibiarkan tumbuh sendiri tanpa perawatan. Sorotan ini penting karena menyasar persoalan dasar di sektor kelapa Indonesia, yaitu tata kelola rantai pasok dan nasib petani swadaya yang selama ini menguasai produksi nasional.
Forum ini dihadiri 700 delegasi dari 21 negara anggota International Coconut Community (ICC), termasuk Belgia, Jepang, Sri Lanka, Thailand, India, dan Filipina, yang membahas arah kebijakan dan alih teknologi kelapa bersama. Momen ini juga dicatat sebagai yang pertama kali ICC, organisasi yang berdiri sejak 1969, dipimpin oleh orang Indonesia, yakni Direktur Jenderal ICC Jelfina C. Alouw. Selain soal kebijakan, pertemuan ini turut mempromosikan hilirisasi industri kelapa serta pariwisata dan budaya Sulawesi Utara.
Zulkifli Hasan menyebut pola budidaya kelapa di Indonesia selama ini seperti "Tuhan yang tanam, Tuhan yang petik", di mana tanaman dibiarkan tumbuh tanpa pemupukan atau peremajaan benih yang terencana. Kritik ini menyasar petani kelapa swadaya, kelompok yang menguasai 90 persen produksi kelapa nasional dan menjadikan Indonesia produsen kelapa terbesar kedua di dunia.
Pola tanam yang pasif ini diperparah oleh kebun rakyat yang sempit, tanaman yang sudah menua, serta minimnya modal dan teknologi pascapanen di tingkat petani. Akibatnya, ketika harga produk turunan kelapa naik di pasar ekspor, keuntungan terbesar justru berhenti di tangan perantara atau tengkulak, bukan pada petani yang menanam dan memanennya.
