PT Pudjiadi & Sons Tbk (PNSE) menyampaikan laporan keuangan konsolidasian tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan departemental, yakni gabungan pendapatan dari kamar, makanan dan minuman, serta pendapatan lain hotel, turun dari Rp167,38 miliar pada periode yang sama tahun 2025 menjadi Rp160,38 miliar. Laba usaha ikut turun tajam dari Rp43,17 miliar menjadi Rp24,25 miliar, mencerminkan pelemahan bisnis inti perhotelan Perseroan.

Meski begitu, laba bersih tahun berjalan justru melonjak dari Rp7,74 miliar menjadi Rp70,23 miliar, dan laba per saham berbalik dari rugi Rp2 menjadi untung Rp81 per saham. Lonjakan ini terutama berasal dari pos laba penjualan aset tetap senilai Rp78,41 miliar, bukan dari kinerja operasional kamar dan restoran. Penjualan aset ini terkait pelepasan tanah milik entitas anak BRB di Blok A, yang telah disetujui pemegang saham dalam RUPS Luar Biasa 30 Juni 2026 dan diikat lewat akta jual beli pada 6 Juli 2026 di hadapan Notaris Jolanda Imelda Kalalo di Denpasar, Bali.

Perseroan menjelaskan, kondisi sembilan bulan 2026 belum sebaik periode sama tahun lalu karena tingkat hunian hotel menurun sehingga pendapatan ikut tergerus. Kas dan setara kas turun 28,9 persen menjadi Rp33,65 miliar, antara lain karena Perseroan melunasi utang bank ke Bank Mandiri lebih cepat untuk mengurangi beban bunga di masa depan. Hotel Jayakarta Suites Komodo Flores milik entitas anak, PT Hotel Jayakarta Flores, juga tutup sejak 16 Agustus 2026 akibat gempa bumi yang terjadi sehari sebelumnya.

Di sisi liabilitas, utang lain-lain kepada pihak ketiga turun dari Rp66,14 miliar menjadi Rp17,37 miliar sejalan dengan pengakuan transaksi penjualan tanah tersebut. Sementara itu, utang dividen entitas anak Hotel Jayakarta Jakarta (HJW) kepada pemegang saham nonpengendali naik dari Rp385,89 juta menjadi Rp3,57 miliar berdasarkan keputusan RUPS 10 Juni 2026, dan sampai akhir September 2026 belum dibayarkan. Total ekuitas Perseroan naik dari Rp192,24 miliar menjadi Rp257,16 miliar.