PT Satyamitra Kemas Lestari Tbk (SMKL) melaporkan kinerja keuangan interim untuk sembilan bulan pertama 2026, tidak diaudit, dengan periode berakhir pada 30 September 2026. Total aset perusahaan tercatat Rp3,06 triliun, naik dari Rp2,60 triliun pada akhir 2025. Penjualan bersih tumbuh 15 persen menjadi Rp1,61 triliun dari Rp1,40 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun laba bersih yang menjadi hak pemegang saham induk nyaris tidak bergerak, yaitu Rp20,56 miliar, sedikit lebih rendah dari Rp20,69 miliar tahun sebelumnya, sehingga laba per saham dasar turun menjadi Rp6,01 dari Rp6,05.
Bersamaan dengan laporan keuangan itu, manajemen SMKL mengirim surat penjelasan khusus ke Bursa Efek Indonesia karena ada pos yang berubah lebih dari 20 persen, ambang batas yang mewajibkan perusahaan tercatat memberi penjelasan kepada bursa. Total liabilitas perusahaan naik 23 persen menjadi Rp2,01 triliun dari Rp1,56 triliun pada akhir 2025. Manajemen menjelaskan, kenaikan itu terutama berasal dari utang bank jangka pendek yang melonjak 38 persen menjadi Rp796,59 miliar, dipakai untuk membiayai investasi pabrik baru di Batang, Jawa Tengah. Utang usaha kepada pemasok juga naik 51 persen menjadi Rp518,82 miliar, seiring pembelian bahan baku yang membesar untuk menambah kapasitas produksi di pabrik Batang tersebut. Surat penjelasan itu ditandatangani oleh Corporate Secretary SMKL, Thie David, pada 31 Oktober 2026. Ekspansi ini turut melibatkan anak usaha PT Satyamitra Yisong Indonesia, yang 60 persen sahamnya dimiliki SMKL, telah beroperasi penuh di Jawa Tengah sejak 2025 dengan nilai aset Rp35,45 miliar.
Di sisi arus kas, aktivitas operasi perusahaan justru menyedot kas bersih Rp166,21 miliar selama sembilan bulan ini, berbalik dari kondisi tahun lalu yang masih menghasilkan kas bersih Rp77,83 miliar. Penyebabnya antara lain piutang usaha yang membesar menjadi Rp622,31 miliar dari Rp444,08 miliar. Persediaan barang juga naik menjadi Rp600,17 miliar dari Rp408,37 miliar, yang berarti uang perusahaan banyak tertahan di tagihan ke pelanggan dan stok barang yang belum terjual. Ekuitas perusahaan sendiri hanya naik tipis menjadi Rp1,05 triliun dari Rp1,04 triliun.
