PT Sumber Mineral Global Abadi Tbk (SMGA) melaporkan kinerja keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Penjualan bersih naik dari Rp1,32 triliun pada periode yang sama tahun 2025 menjadi Rp2,11 triliun, sementara laba kotor naik dari Rp93,07 miliar menjadi Rp116,51 miliar. Laba bersih periode berjalan naik dari Rp46,49 miliar menjadi Rp56,33 miliar, dengan bagian yang menjadi hak pemilik entitas induk naik dari Rp50,73 miliar menjadi Rp52,94 miliar. Laba per saham dasar dan dilusian naik dari Rp5,80 menjadi Rp6,14.

Total aset perseroan naik dari Rp934,95 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp1,21 triliun. Kenaikan ini terutama didorong oleh kas dan bank yang melonjak dari Rp17,47 miliar menjadi Rp96,68 miliar akibat pelunasan piutang penjualan di akhir kuartal ketiga, serta piutang usaha yang naik dari Rp132,66 miliar menjadi Rp420,6 miliar karena hasil penjualan yang belum tertagih dari pelanggan. Di sisi liabilitas, total utang naik dari Rp544,88 miliar menjadi Rp765,05 miliar, setara kenaikan 35,09 persen menurut penjelasan resmi manajemen ke Bursa Efek Indonesia. Penyebab utamanya adalah utang usaha untuk pembelian batu bara dan nikel yang naik 90,5 persen, dari Rp115,2 miliar menjadi Rp219,46 miliar. Sebaliknya, utang bank jangka panjang justru turun 67,06 persen, dari Rp13,58 miliar menjadi Rp4,47 miliar, karena perseroan melunasi sebagian pinjaman modal kerja.

Dalam surat resminya ke Kepala Divisi Penilaian Perusahaan BEI dan Otoritas Jasa Keuangan, manajemen SMGA yang ditandatangani Raymond Ng Chi Ching menegaskan bahwa kenaikan liabilitas lebih dari 20 persen itu tidak berdampak negatif terhadap kinerja perseroan. Laporan keuangan itu sendiri disampaikan oleh Corporate Secretary Mona Dita Saraswati sesuai kewajiban Peraturan Nomor I-E BEI tentang penyampaian informasi berkala.