PT Sumber Mineral Global Abadi Tbk (SMGA) menyampaikan koreksi atas laporan keuangan interim periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 melalui surat bernomor 180/SMGA/X/2026 tertanggal 20 Oktober 2026 yang diteken Corporate Secretary Mona Dita Saraswati. Koreksi ini merujuk pada ketentuan III.1.1.5 Peraturan Bursa Efek Indonesia Nomor I-E tentang Kewajiban Penyampaian Informasi. Perusahaan menerbitkan ulang laporan keuangan yang sebelumnya sudah diaudit dengan opini wajar tanpa modifikasian oleh KAP Morhan & Rekan, dengan partner penandatangan Morhan Tirtonadi, pada 28 September 2026. Dalam laporan auditor independen disebutkan, penerbitan ulang ini dilakukan untuk menambahkan data pembanding per 31 Desember 2024, dan laporan ini disusun khusus untuk dicantumkan dalam prospektus terkait rencana Penawaran Umum Obligasi Berkelanjutan I SMGA Tahap I Tahun 2026, serta tidak boleh dipakai untuk tujuan lain.

Secara operasional, penjualan bersih SMGA dari perdagangan batu bara, nikel, batu kapur, dan pasir tercatat Rp1,58 triliun untuk periode enam bulan hingga 30 Juni 2026. Angka ini jadi salah satu hal yang disorot khusus oleh auditor karena pengakuannya melibatkan pertimbangan signifikan dalam menentukan harga transaksi dan waktu pencatatan pendapatan. Auditor juga menyoroti uang muka kepada pemasok batu bara, nikel, batu kapur, dan pasir senilai Rp436,35 miliar per akhir Juni 2026, karena pos ini butuh penilaian apakah ada potensi penurunan nilai yang harus diakui.

Pada posisi keuangan, kas dan setara kas SMGA naik lebih dari dua kali lipat menjadi Rp42,53 miliar per 30 Juni 2026 dari Rp17,47 miliar pada akhir 2025, sementara total aset naik tipis dari Rp934,95 miliar menjadi Rp952,15 miliar. Piutang usaha melonjak 117,16 persen menjadi Rp288,09 miliar, yang menurut penjelasan perusahaan terjadi karena penjualan yang belum dibayar pelanggan sampai akhir Juni 2026. Sebaliknya, uang muka kepada pemasok turun 24,47 persen menjadi Rp461,67 miliar karena realisasi pengiriman batu bara dari uang muka yang sudah dibayarkan sebelumnya. Di sisi liabilitas, utang usaha naik 36,22 persen menjadi Rp156,92 miliar akibat pembelian batu bara dan nikel yang lebih besar, sementara utang bank jangka panjang turun 51,45 persen menjadi Rp6,59 miliar karena perusahaan melunasi sebagian pinjamannya.