PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK), pemilik merek kedai minuman dan makanan Teguk, menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Perseroan membalik rugi bersih Rp18,17 miliar pada periode yang sama tahun 2025 menjadi laba bersih Rp3,08 miliar, dengan laba per saham berubah dari rugi Rp7,27 menjadi laba Rp1,23 per saham. Laba usaha juga berbalik dari rugi Rp17,90 miliar menjadi laba Rp7,53 miliar. Laporan dan surat pernyataan direksi ditandatangani Direktur Utama Agus Suhada pada 30 Oktober 2026.

Kas dan bank naik sekitar 11,9 kali lipat menjadi Rp2,83 miliar dari Rp238,37 juta per akhir 2025, didorong arus kas operasi positif Rp2,99 miliar, hasil penerimaan dari pelanggan Rp458,02 miliar setelah dikurangi pembayaran ke pemasok, karyawan, dan beban operasional lain. Jumlah aset naik tipis menjadi Rp129,71 miliar dari Rp127,65 miliar, jumlah liabilitas turun menjadi Rp52,79 miliar dari Rp53,81 miliar, dan ekuitas naik menjadi Rp76,93 miliar dari Rp73,85 miliar. Perseroan juga mengurangi jumlah gerai sewa dari 25 menjadi 13 gerai, membuat nilai aset hak guna turun 35,52 persen menjadi Rp445,42 juta.

Dokumen ini juga mengungkap utang kepada pihak ketiga, yaitu Tn. Edie, sebesar Rp10,46 miliar yang sebelumnya tercatat sebagai liabilitas jangka pendek, kini seluruhnya direklasifikasi menjadi utang jangka panjang berdasarkan perjanjian pinjam meminjam tertanggal 6 Agustus 2026 dengan tenor 10 tahun dan bunga 10 persen per tahun. Perseroan menambah pinjaman baru Rp4,06 miliar dari pihak yang sama, sehingga total utang jangka panjang ke pihak ketiga menjadi Rp14,52 miliar. Perseroan menyatakan fasilitas ini untuk mendukung operasional usaha dan terkait rencana pengambilalihan (perubahan pengendalian) Perseroan, tanpa merinci pihak yang akan mengambil alih atau jadwalnya.