PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim yang belum diaudit untuk periode sembilan bulan berakhir 30 September 2026, ditandatangani Direktur Utama Edwin Wibowo pada 29 Oktober 2026. Pendapatan neto perusahaan logistik ini naik 31 persen menjadi Rp2,9 triliun, dari Rp2,21 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun laba bersih justru turun 55 persen menjadi Rp13,48 miliar, dari Rp30,22 miliar, karena kenaikan beban pokok pendapatan dan beban keuangan menggerus margin. Laba usaha ikut turun 24 persen menjadi Rp64,05 miliar, sementara laba per saham dasar merosot dari Rp8,6 menjadi Rp1,7, akibat kombinasi laba yang lebih kecil dan jumlah saham beredar yang lebih banyak.
Di sisi permodalan, jumlah saham beredar WBSA bertambah dari 6,875 miliar menjadi 8,675 miliar lembar dengan nilai nominal Rp40 per saham, menambah modal saham sebesar Rp72 miliar menjadi Rp347 miliar. Tambahan modal disetor melonjak dari Rp1,14 miliar menjadi Rp176,05 miliar, sejalan dengan penerbitan saham baru tersebut. Namun ekuitas perusahaan juga tergerus Rp215 miliar akibat penyesuaian nilai transaksi restrukturisasi entitas sepengendali, yakni penggabungan nilai ekuitas entitas yang sebelumnya bergabung ke dalam struktur WBSA. Setelah memperhitungkan seluruh perubahan itu, total ekuitas perusahaan tetap naik 17 persen menjadi Rp630,56 miliar, dari Rp538,68 miliar pada akhir 2025.
Struktur utang WBSA juga berubah signifikan. Pinjaman bank jangka pendek turun tajam dari Rp146,97 miliar menjadi Rp13,18 miliar, sementara perusahaan mengambil pinjaman bank jangka panjang baru senilai Rp133,43 miliar yang sebelumnya tidak ada. Medium-term notes senilai Rp30 miliar tidak berubah. Total aset perusahaan naik 6,3 persen menjadi Rp1,70 triliun, dari Rp1,60 triliun pada akhir 2025, sementara total liabilitas relatif stabil di kisaran Rp1,07 triliun.
