Lippo Karawaci Tbk menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 kepada OJK dan Bursa Efek Indonesia melalui surat nomor 080/LK-COS/X/2026 tertanggal 28 Oktober 2026, ditandatangani oleh Ratih Safitri selaku Sekretaris Perusahaan. Pendapatan perseroan turun menjadi Rp5,37 triliun dari Rp6,51 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Namun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik induk justru melonjak menjadi Rp1,24 triliun dari Rp368,2 miliar, sehingga laba per saham dasar naik dari Rp5,19 menjadi Rp17,48.

Kenaikan laba ini terutama didorong oleh dua pos di luar penjualan inti. Pertama, pos penghasilan lainnya melonjak menjadi Rp975,9 miliar dari sebelumnya hanya Rp101,1 miliar. Kedua, bagian laba dari entitas asosiasi naik menjadi Rp523,9 miliar dari Rp498,9 miliar. Laba usaha pun tercatat Rp1,32 triliun, hampir tiga kali lipat dari Rp465 miliar tahun lalu, meski beban pokok pendapatan juga turun menjadi Rp2,96 triliun dari Rp4,18 triliun sehingga laba bruto sedikit naik menjadi Rp2,30 triliun dari Rp2,20 triliun.

Di sisi posisi keuangan, total aset turun menjadi Rp48,27 triliun dari Rp49,25 triliun pada akhir 2025, sementara total liabilitas turun menjadi Rp16,32 triliun dari Rp18,20 triliun dan total ekuitas naik menjadi Rp31,95 triliun dari Rp31,05 triliun. Kas dan setara kas menyusut menjadi Rp1,37 triliun dari Rp1,96 triliun, sementara utang bank jangka pendek lebih dari dua kali lipat menjadi Rp3,57 triliun dari Rp1,73 triliun. Arus kas dari aktivitas operasi masih negatif Rp314,7 miliar, meski membaik dari negatif Rp1,21 triliun setahun sebelumnya, sedangkan arus kas investasi makin negatif menjadi Rp1,52 triliun akibat pembelian properti investasi senilai Rp1,04 triliun dan tambahan investasi di entitas asosiasi senilai Rp397,5 miliar. Perusahaan juga melakukan pembelian kembali saham senilai Rp1,2 miliar sepanjang periode ini.