PT Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry (LPPI) mengoreksi laporan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum obligasi dan sukuk berkelanjutan yang sebelumnya disampaikan pada 8 September 2026. Surat koreksi bernomor 018CRPLP/IX/2026 ini ditandatangani Direktur Kosim Sutiono dan mencakup empat instrumen yang sama-sama efektif sejak 2 Desember 2025, yaitu Obligasi Berkelanjutan IV Tahap II senilai Rp1,05 triliun, Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Tahap II senilai Rp1,55 triliun, Obligasi Berkelanjutan IV Tahap III senilai Rp800,9 miliar, dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Tahap III senilai Rp272,04 miliar. Setelah dikurangi biaya emisi yang berkisar Rp1,33 miliar hingga Rp8,37 miliar per instrumen, total dana bersih yang diterima perseroan dari keempat instrumen itu mencapai sekitar Rp3,65 triliun.
Dari seluruh dana bersih tersebut, mayoritas sudah dipakai membayar pokok dan bunga utang bank serta obligasi lama. Obligasi Tahap II menyalurkan 73 persen dananya, atau Rp759,56 miliar, untuk pembayaran utang dan 27 persen atau Rp283,6 miliar untuk modal kerja, keduanya sudah terealisasi penuh. Sukuk Tahap II menyalurkan 71 persen atau Rp1,1 triliun untuk pembayaran utang dan 29 persen atau Rp446,78 miliar untuk modal kerja, juga terealisasi penuh. Sukuk Tahap III menyalurkan 79 persen atau Rp213,04 miliar untuk pembayaran utang dan 21 persen atau Rp57,67 miliar untuk modal kerja, keduanya sudah tuntas.
Yang belum tuntas adalah Obligasi Tahap III. Dari rencana modal kerja Rp232,35 miliar atau 29 persen dari dana bersih, baru Rp69,51 miliar atau 9 persen yang terealisasi. Sisanya, Rp162,84 miliar, masih mengendap di rekening giro PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dengan bunga 6,5 persen, dan menurut perseroan akan dicairkan bertahap untuk kebutuhan modal kerja dengan target realisasi Oktober 2026. Bagian pembayaran utang di tahap ini, Rp564,86 miliar atau 71 persen dari dana bersih, sudah terealisasi penuh.
