PT Lenox Pasifik Investama Tbk (LPPS) melaporkan rugi bersih Rp230,86 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, berbalik dari laba Rp20,26 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Jika penghasilan komprehensif lain turut dihitung, total rugi komprehensif perusahaan mencapai Rp444,82 miliar, dibandingkan laba komprehensif Rp28,40 miliar pada September 2025. Rugi per saham tercatat Rp89,20, berbalik dari laba Rp7,83 per saham pada periode sebelumnya.
Penyebab utama kerugian adalah bagian rugi dari entitas asosiasi sebesar Rp234,77 miliar, berbalik dari keuntungan Rp3,90 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Nilai investasi pada entitas asosiasi di laporan posisi keuangan pun ikut turun, dari Rp550,33 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp315,55 miliar pada akhir September 2026. Selain itu, perusahaan mencatat rugi belum terealisasi atas efek yang diukur pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain sebesar Rp213,95 miliar, berbalik dari keuntungan Rp8,14 miliar setahun sebelumnya, seiring investasi jangka panjang lainnya yang menyusut dari Rp353,86 miliar menjadi Rp149,91 miliar.
Akibat perubahan ini, total aset perusahaan turun 42,92 persen, dari Rp1,04 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp591,70 miliar pada akhir September 2026, selisih Rp444,89 miliar. Total liabilitas juga turun 34,23 persen, dari Rp219,34 juta menjadi Rp144,26 juta, meski secara nominal jumlahnya kecil dibanding skala aset perusahaan. Dalam surat keterbukaan terpisah kepada Bursa Efek Indonesia tertanggal 2 November 2026, yang wajib disampaikan karena perubahan pos aset dan liabilitas melampaui 20 persen, Corporate Secretary LPPS Aditya Budi Kurniawan menjelaskan penurunan total aset terutama disebabkan oleh berkurangnya saldo investasi jangka panjang lainnya, sementara penurunan total liabilitas terutama berasal dari berkurangnya biaya yang masih harus dibayar.
Ekuitas perusahaan ikut tergerus dari Rp1,04 triliun menjadi Rp591,55 miliar dalam sembilan bulan. Posisi kas dan setara kas LPPS per akhir September 2026 tercatat Rp111,59 miliar, turun dari Rp128,76 miliar pada akhir 2025. Pendapatan usaha perusahaan yang kini berfokus sebagai perusahaan holding dan konsultasi manajemen tercatat tipis, hanya Rp195 juta untuk sembilan bulan, mencerminkan model bisnisnya yang bergantung pada penghasilan bunga dan dividen dari portofolio investasi, bukan dari penjualan barang atau jasa dalam skala besar.
