Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) pada triwulan II-2026 berada di angka 52,31, menguat dibanding triwulan sebelumnya dan berada di zona ekspansi. Angka ini penting karena IKBM berfungsi sebagai indikator dini aktivitas industri pengolahan, yang biasanya mendahului rilis Produk Domestik Bruto dan bisa memberi gambaran arah sektor manufaktur lebih cepat.

IKBM disusun dari Survei Industri Besar Sedang Triwulanan, dengan angka di atas 50 menandakan ekspansi dan di bawah 50 menandakan kontraksi. Pada triwulan II-2026, tiga komponen pembentuknya, yaitu pesanan, produksi, dan stok, sama-sama tercatat ekspansif, yang mengindikasikan permintaan dan aktivitas produksi industri masih tumbuh.

Di sisi lain, dua komponen lain justru kontraksi, yakni tenaga kerja dan waktu kirim. Artinya, penguatan produksi pada periode ini belum diikuti penyerapan tenaga kerja yang sepadan, sementara proses pengiriman barang tercatat melambat dibanding kondisi normal.