PT Map Boga Adiperkasa Tbk (MAPB) menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Rugi bersih perusahaan melebar menjadi Rp157,5 miliar, naik 44,9 persen dibandingkan Rp108,7 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Rugi per saham dasar turut membesar, dari Rp46 menjadi Rp66 per saham. Laporan ini ditandatangani Direktur Utama Anthony Valentine Mc Evoy dan Direktur Derwin Wirawan pada 23 Oktober 2026.

Dari sisi operasional, penjualan MAPB sebenarnya tumbuh 9 persen menjadi Rp2,57 triliun dari Rp2,35 triliun, dan laba kotor naik 6,2 persen menjadi Rp1,74 triliun. Namun kenaikan beban penjualan menjadi Rp1,62 triliun dan beban umum serta administrasi menjadi Rp242,3 miliar membuat rugi sebelum pajak tetap melebar 11,2 persen menjadi Rp157,7 miliar. Perseroan juga mencatat rugi selisih kurs mata uang asing Rp14,3 miliar, naik dari Rp5,6 miliar tahun lalu. Pelebaran rugi bersih yang jauh lebih tajam dibanding rugi sebelum pajak terjadi karena manfaat pajak penghasilan tahun ini cuma Rp177 juta, jauh lebih kecil dari Rp33,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Di neraca, total aset MAPB turun menjadi Rp2,54 triliun dari Rp2,82 triliun pada akhir 2025, sementara total ekuitas turun menjadi Rp1,24 triliun dari Rp1,40 triliun. Saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya nyaris habis, dari Rp157,5 miliar menjadi tinggal Rp1 juta, karena hampir seluruhnya terpakai menyerap rugi periode berjalan. Kas dan setara kas menyusut menjadi Rp316,7 miliar dari Rp376 miliar, antara lain karena pembayaran liabilitas sewa toko dan gerai Rp225,3 miliar selama sembilan bulan. Dari sembilan entitas anak yang dikonsolidasikan, pemegang lisensi Starbucks di Indonesia tercatat sebagai kontributor aset terbesar dengan Rp1,68 triliun, didampingi entitas anak lain yang menaungi merek seperti Krispy Kreme, Genki Sushi, Paul Bakery, Subway, Pizza Marzano, Cold Stone Creamery, dan Godiva.