PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) menjawab surat permintaan penjelasan dari Bursa Efek Indonesia dengan memaparkan kondisi keuangan terkininya. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, Perseroan membukukan pendapatan Rp141,7 miliar dan laba usaha Rp14,3 miliar. Rugi neto menyusut signifikan menjadi Rp8,3 miliar, dari sebelumnya Rp58,3 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Perbaikan ini terutama didorong oleh turunnya beban lain-lain neto dari Rp90,3 miliar menjadi Rp22,6 miliar, termasuk rugi selisih kurs yang turun dari Rp48,2 miliar menjadi Rp8,8 miliar. Dari sisi neraca, total aset tercatat Rp3,13 triliun dengan ekuitas positif Rp935,5 miliar, sementara total liabilitas turun Rp199,5 miliar atau 8,3 persen, dari Rp2,39 triliun per akhir Desember 2025 menjadi Rp2,19 triliun per akhir Maret 2026. Perseroan menegaskan tidak ada kontrak atau sumber pendapatan baru yang material setelah periode laporan tersebut, dan tidak ada perkara hukum material yang belum diungkapkan.
Soal bisnis inti, Perseroan menyatakan stasiun televisi ANTV masih menjadi penopang utama pendapatan, dengan positioning pada konten hiburan keluarga yang menyasar pemirsa wanita, ibu rumah tangga, dan keluarga. Program unggulan mencakup serial asing asal India dan film klasik Indonesia yang dinilai efisien dari sisi biaya pengadaan konten. Di sisi operasional, Perseroan melakukan revitalisasi Master Control Room dan optimalisasi penggunaan transponder siaran. Konten ANTV juga didistribusikan ulang ke YouTube, Facebook, dan Instagram melalui sinergi dengan grup usaha VIVA untuk memperluas jangkauan ke audiens digital.
Untuk strategi 2026, Perseroan berencana menambah serial lokal di jam tayang utama serta serial asing dari pasar yang belum banyak digarap kompetitor, ditambah program off-air untuk memperkuat keterikatan penonton. Perseroan mengutip proyeksi Bank Indonesia bahwa ekonomi domestik tumbuh 4,9-5,7 persen pada 2026, serta proyeksi PwC bahwa industri media dan hiburan Indonesia tumbuh dengan rata-rata 8,4 persen per tahun selama 2025-2029, dua kali lipat proyeksi pertumbuhan global. Soal pergerakan harga sahamnya, manajemen menyatakan hal itu dipengaruhi dinamika permintaan-penawaran dan ekspektasi investor, dan tidak selalu berjalan seiring kinerja operasional periode berjalan. Perseroan juga menegaskan tidak ada informasi material lain terkait sahamnya yang belum pernah diungkapkan ke Bursa.
