Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengajak Peking University di Tiongkok untuk menjajaki riset bersama di satu atau dua kawasan transmigrasi. Tujuannya memetakan peluang investasi, pengembangan industri, dan penciptaan lapangan kerja di kawasan tersebut. Tawaran ini disampaikan Iftitah dalam kuliah umum bertajuk Industrialisation Beyond Java: Transmigration and Indonesia's New Growth Centres, di Institute of South-South Cooperation and Development, Peking University, Beijing, Senin, 12 Oktober 2026.

Menurut Iftitah, riset yang diusulkan harus berorientasi pada solusi konkret, mulai dari pemetaan potensi ekonomi dan rantai nilai, identifikasi hambatan pembangunan, hingga kebutuhan keterampilan tenaga kerja. Ia menyebut Indonesia memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan sumber daya mineral, tetapi potensi itu belum sepenuhnya terhubung dengan industri pengolahan, akses pasar, teknologi, dan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan industri.

Kawasan yang disoroti dalam usulan ini adalah Salor dan Wanam di Merauke, Papua Selatan. Iftitah menyinggung peluang kerja sama Indonesia dan Tiongkok di kedua kawasan tersebut, khususnya untuk riset pertanian, pemanfaatan teknologi, peningkatan keterampilan, dan pengembangan sistem produksi pangan. Penelitian Tim Ekspedisi Patriot sebelumnya telah mengidentifikasi sejumlah kendala produktivitas pertanian di Salor, seperti kualitas bibit, pengendalian hama, irigasi, dan akses jalan usaha tani.

Iftitah menekankan bahwa pengembangan kawasan transmigrasi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk melalui peningkatan produktivitas dan pendapatan petani serta keterlibatan UMKM dalam rantai pasok industri. Ia berharap penjajakan ini dapat ditindaklanjuti bersama ISSCAD dan Peking University untuk mendukung pengembangan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.