PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan per 30 September 2026, disertai surat penjelasan kepada OJK dan PT Bursa Efek Indonesia tertanggal 29 Oktober 2026 yang ditandatangani Direktur Utama Mengky Mangarek. Surat itu menjelaskan sejumlah pos aset dan liabilitas yang berubah lebih dari 20 persen dibandingkan akhir Desember 2025.

Dari sisi aset, kas dan setara kas perusahaan turun 68 persen dari Rp30,09 miliar menjadi Rp9,72 miliar, yang menurut perusahaan terjadi karena dana itu berpindah menjadi piutang usaha. Piutang usaha pihak ketiga memang naik 70 persen dari Rp43,44 miliar menjadi Rp73,65 miliar karena ada tagihan baru yang belum jatuh tempo, sementara uang muka naik 57 persen dari Rp56,6 miliar menjadi Rp88,64 miliar untuk pembelian persediaan.

Yang paling mencolok ada di sisi liabilitas: jumlah liabilitas melonjak dari Rp48,55 miliar per akhir 2025 menjadi Rp246,5 miliar per September 2026. Utang pajak naik 72 persen menjadi Rp26,71 miliar karena tambahan utang PPN dan PPh 21, sementara beban masih harus dibayar melonjak 449 persen menjadi Rp6,12 miliar karena bunga pinjaman yang belum dibayar. Di laporan posisi keuangan juga muncul pos baru utang lain-lain senilai Rp149,66 miliar untuk jangka pendek dan Rp29,34 miliar untuk jangka panjang, yang sebelumnya tercatat nol, sedangkan pos dana syirkah temporer senilai Rp184,17 miliar yang ada di laporan akhir 2025 kini tidak lagi muncul. Surat penjelasan perusahaan sendiri tidak menyinggung kedua perubahan pos ini, hanya membahas utang usaha, utang pajak, beban akrual, dan pelunasan pinjaman lembaga keuangan.

Di laporan laba rugi, pendapatan sembilan bulan turun tipis dari Rp137,99 miliar menjadi Rp137,12 miliar, tetapi laba kotor justru naik dari Rp83,52 miliar menjadi Rp84,35 miliar karena beban pokok pendapatan berkurang. Laba bersih periode berjalan naik dari Rp2,13 miliar menjadi Rp2,61 miliar, namun laba per saham dasar turun dari Rp0,89 menjadi Rp0,54 karena jumlah saham beredar berlipat dua, dari 2.400.212.690 lembar menjadi 4.800.425.380 lembar, setelah pembagian dividen saham pada akhir 2025. Ekuitas perusahaan sendiri hanya naik tipis dari Rp186,14 miliar menjadi Rp188,62 miliar.