PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) mengoreksi laporan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum perdana (IPO) yang sebelumnya disampaikan pada 14 Juli 2026. Koreksi bertanggal 24 September 2026 ini ditandatangani Iwan Kurniawan selaku Direktur dan Corporate Secretary, dan mencakup periode laporan hingga 30 Juni 2026. Dari IPO saham MPRO yang efektif pada 28 September 2018, perseroan meraih dana Rp164,18 miliar, dan setelah dipotong biaya emisi Rp7,83 miliar atau setara 4,77 persen dari total dana, hasil bersih yang tercatat adalah Rp156,35 miliar, sama persis dengan rencana penggunaan dana di prospektus.

Dalam prospektus, perseroan awalnya merencanakan porsi terbesar dana, yakni 80 persen atau Rp125,08 miliar, untuk Proyek Simprug Signature. Sisanya dialokasikan 15 persen atau Rp23,45 miliar untuk Proyek Apartemen Apsara Tower 1, dan 5 persen atau Rp7,82 miliar untuk modal kerja operasional. Namun realisasi hingga 30 Juni 2026 bergeser jauh dari rencana itu, Proyek Simprug Signature hanya kebagian Rp22,99 miliar atau 15 persen, sementara modal kerja operasional justru menyerap Rp75,97 miliar atau 49 persen dan Proyek Apartemen Apsara Tower 1 menyerap Rp53,39 miliar atau 34 persen. Total dana yang sudah direalisasikan mencapai Rp152,34 miliar, menyisakan Rp4,01 miliar yang belum digunakan.

Sisa dana Rp4,01 miliar itu saat ini ditempatkan di kas besar perusahaan sendiri dengan bunga 0 persen, dan laporan menyebutkan penempatan ini berstatus afiliasi. Dari total biaya penawaran umum Rp7,83 miliar, komponen terbesar adalah biaya lain lain senilai Rp2,33 miliar, diikuti biaya jasa profesi penunjang pasar modal Rp1,71 miliar dan biaya jasa penjaminan emisi (underwriting fee) Rp1,64 miliar.