PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 kepada OJK dan Bursa Efek Indonesia pada 2 November 2026. Pendapatan neto perseroan tercatat Rp1,69 triliun, turun dari Rp3,07 triliun pada periode yang sama tahun 2025, atau anjlok sekitar 45 persen. Meski pendapatan merosot tajam, laba kotor relatif tertahan di Rp93,81 miliar, hampir sama dengan Rp94,06 miliar setahun sebelumnya, karena beban pokok pendapatan ikut menyusut seiring turunnya penjualan. Namun rugi neto periode berjalan justru melebar menjadi Rp56,44 miliar, dari Rp17,72 miliar pada sembilan bulan 2025, terutama dipicu rugi selisih kurs neto Rp21,71 miliar dan rugi investasi lain yang belum terealisasi Rp17,22 miliar.

Dari sisi posisi keuangan, total aset naik tipis menjadi Rp1,47 triliun per 30 September 2026 dari Rp1,38 triliun di akhir 2025. Tetapi total liabilitas melonjak 27 persen menjadi Rp794,76 miliar dari Rp625,59 miliar, sehingga NFCX wajib mengirim surat penjelasan tertulis ke Direktur Penilaian Perusahaan BEI tertanggal 2 November 2026, sesuai Peraturan Bursa I-E yang mewajibkan penjelasan untuk perubahan lebih dari 20 persen pada total aset atau liabilitas. Dalam surat itu disebutkan kenaikan utang usaha sebesar Rp65,76 miliar atau 38 persen, dari Rp172,92 miliar menjadi Rp238,68 miliar, sebagai penyebab utama. Selain itu, persediaan melonjak 49 persen menjadi Rp322,49 miliar dari Rp215,97 miliar, kas dan setara kas turun 21 persen menjadi Rp114,99 miliar dari Rp145,76 miliar, dan utang bank jangka pendek melonjak dari Rp116 juta menjadi Rp56,34 miliar. Akibat rangkaian ini, total ekuitas turun 10,5 persen menjadi Rp671,47 miliar dari Rp750,62 miliar. Laporan ini juga mencatat bahwa anak usaha PT Semolis Maju Bersama telah dilepas kepemilikannya pada 31 Juli 2026 sehingga tidak lagi masuk konsolidasi per akhir September 2026.

Surat pernyataan direksi yang menyertai laporan ini ditandatangani Direktur Utama Abraham Theofilus dan Direktur Niko Navea Aquino pada 30 Oktober 2026. Keduanya menyatakan bertanggung jawab penuh atas penyusunan laporan keuangan tersebut, memastikan tidak ada informasi material yang disembunyikan, serta bertanggung jawab atas sistem pengendalian internal perseroan.